Rabu, 27 Desember 2017

KASIH IBU TIADA BATAS

    IBU adalah orang yang melahirkan kita ke dunia. Ibu mengasuh dan mendidik kita sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Kasih ibu tiada batasannya dan tidak dapat dicari ganti . Ibu saya bernama Zaharah binti Mohd Ruslan. Beliau berusia 39 tahun.                                                                                                              
  Ibu saya seorang yang sederhana, selalu berbaju kurung dan berjilbab. Bagi saya ibu adalah wanita yang cantilk, bersopan santun dan periang. Ibu saya seorang suri rumah yang rajin dalam melakukan tugas-tugas seharian.                                                                           Pada hari Ahad, ibu akan memasak lauk pauk kegemaran kami sekeluarga. Selain itu, ibu saya pandai menjahit dan selalu menghabiskan masa lapangnya dengan menjahit baju-baju. Kami juga akan menonton televisyen bersama-sama.                                                                                                                    
      Saya sayang akan ibu saya dan berasa sangat kegembira apabila melihat ibu tersenyum. Saya akan belajar bersungguh-sungguh dan akan sentiasa membuatkan ibu gembira. Saya doakan semoga ibu berbahagia selalu. (Tulisan Arni Nadira Binti Mohamad Roslan, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut)

MALAIKAT TANPA SAYAP

Sinar rembulan yang menggantikan matahari mencolok menembus bumi karena matahari yang tidak memperlihatkan sinar nya lagi, disaat alam beristirahat setelah bekerja lelah seharian dan disaat manusia kembali ke tempat peristirahatan nya.

Disaat itu pula sujud nya di hadapan Allah menjadi harapan untuk kesuksesan anak nya, doa nya yang tak pernah putus untuk kebahagian anak nya, tangis nya memohon kepada Allah tak pernah terhenti untuk keselamatan anak nya, kedua tangan nya yang meminta dengan lantang menjadi jaminan atas harapan nya.
Dialah ibuku, yang melahirkanku dengan jeritan dan cucuran darah serta rasa sakit yang amat membuatnya hampir mati, tetapi itu semua ia telan bulat bulat demi kehadiranku. Dialah ibuku, dia tak tidur demi menjaga ku dalam tidurku, dia tak makan hanya demi menjaga ku dari laparku, dia kekelahan hanya demi menjaga agar putri kecil nya tetap terenyum, karena baginya tidak ada kebahagiaan yang kekal selain kebahagiaan anaknya.
Tidak ada rasa sakit yang parah selain derita anak nya, tak ada senyum yang lebar selain riang tawa anak nya. Dialah ibuku yang mengorbankan hidup nya demi membesarkan ku, memberi segala yang dia punya bahkan nyawa nya sendiri. Kadang aku tak sadar sering menyakiti hati nya dan membuat nya menangis tetapi hati nya dengan ikhlas tak pernah marah ataupun memberontak, Ia buat menjadi sebuah debu kecil yang akan hialng jika dibersihkan.
Dia menjadi alasan ku untuk untuk tetap semangat dalam menggapai cita cita, dia yang selalu membuat ku tetap teguh pendirian disaat aku sudah bimbang dengan apa yang ku terima di dunia ini, dia menjadi pengobat hati ku disaat aku dalam kesedihan yang amat luar biasa, dia menjadi benteng yang kokoh disaat benteng di dalam diriku roboh, dia  menjadi segala nya dalam kehidupan ku dia turut andil dalam perjalananku.
Tak ada yang bisa menggantikan dia di hidup ku, dan sampai sekarang aku masih bersyukur kepada tuhan karena dia mengrimkan ku ibu yang berhati malaikat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup ku jika tidak ada dia, mungkin aku hanya seperti seonggok daging yang tak berguna, hanya sebatas manusia yang hampa di dunia ini. Ibuku malaikat ku segala ucapan terimaksih tak ada harga nya dengan pengorbananmu sebuah rumah mewah pun tak ada banding nya bahkan sebongkah mutiara tak bisa mengantikan setitik keringatnya yang habis karena membesarkan ku.
Aku hanya berharap dapat membalas setitik dari semua pengorbanan nya, membuat bibir nya yang kering menjadi sebuah senyum lebar atas kesuksesan ku, mengganti setidaknya setetes dari banyak nya darah yang ia keluarkan untuk ku dengan keberhasilan yang aku capai nanti nya.
Dan satu doa yang aku harapkan dan itu pantas untuk nya semoga surga Allah terbuka lebar untuk nya karena dia Malaikat ku, karena aku tau semua malaikat Allah ada di surga dan kali ini malaikat ku berada di sisi ku yang sekarang kebahagiaan nya menjadi prioritas utama ku, aku akan melakukan apa saja demi membahagiakannya, aku akan meminta pada tuhan untuk tetap menjaganya dan memberi dia kesehatan sampai nanti waktunya tiba aku memberikan segala yang aku punya untuknya.
Karena apa yang aku miliki sekarang ini tak akan pernah aku miliki tanpa ada nya jasa seorang ibu. Dan aku meminta pada Allah  agar tetap menjaga tempat ibuku nantinya yaitu Surga, karena itu lah tempat malaikat malaikat Allah. Karena ibuku adalah Malaikat ku. (Dina Sahara, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut). 

IBU SEGALANYA

Berawal dari rahim seorang wanita yang selalu kusebut dengan panggilan IBU. dia adalah sosok inspirasi bagiku, penyemangat dalam hidupku. dia adalah sosok sempurna yang pernah aku kenal di dunia ini . dia adalah malaikat jiwaku.
Tanpa dia aku tidak tahu apa-apa,  dia yang selalu mengajari aku sampai aku bisa sampai sekarang ini. Dia tidak pernah mengeluh untuk menghadapi tingkahlakuku, apalagi aku sudah mulai dewasa.
Dia selalu khawatir dengan keadaanku. Dia takut akan pergaulanku, dia selalu khawatir akan semuanya tentangku, karna kasih sayangnya tidak pernah hilang dan bahkan berkurang
Dia sering marah terhadapku karena aku terkadang terlambat pulang sekolah, tetapi dia lakukakan itu semua demi kebaikanku. Bukan karena dia benci, dia selalu berjuang untukku dan memberi motivasi.
Kini umurku 17 tahun aku anak pertama dari 4 bersaudara. Dia orang tua yang sangat adil,  kadang aku tak peduli dengan omongan dia.  Dia tidak pernah memikirkan kesehatannya demi mengurusku sampai sebesar ini,mama segalanya bagiku. Mama terhebat yang pernah aku miliki.

Aku hanya berharap suatu saat nanti aku bisa mengobati rasa lelah dia selama ini. Membahagiakan dia, melihat senyum terindahnya yang terlihat di bibirnya, air mata bahagianya. (Tulisan Desy Indah, mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sumut).

PERJUANGAN

Dalam hidup ini tak bisa dilepaskan dari perjuangan seorang ibu. Dimana seorang ibu berjuang untuk anaknya, mulai dari mengandung selama 9 bulan dan mempertaruhkan nyawanya ketika melahirka.
Telah banyak jasa seorang ibu kepada anaknya, ibu juga menjadi madrasah pertama dalam keluarga. Ibu mendidik anaknya menjadi manusia yang lebih baik dan menyekolahkan mulai sekolah dasasr sampai seperti sekarang ini. Perjuangan seorang ibu hal yang tidak bisa dilepaskan dari hidup ini.
Ia juga menjadi sosok yang sangat berharga di dalam hidup seseorang dan tidak mungkin melupakan kasih sayangnya. Takkan pernah terganti dengan apapun. Perjuangan yang telah ia berikan untuk membesarkan buah hatinya membuat ia mengorbankan segala hal dengan harapan buah hati menjadi sosok yang bermamfaat bagi orang lain.
Tidak merasa letih, tidak merasa canggung, tidak merasa lelah, bahkan tidak pernah mengatakan kata “lelah, letih” ataupun mengharapkan imbalan.
Seorang ibu juga tak pernah menyerah untuk pemperjuangkan ke inginan anaknya ia selalu berusaha memenuhi keinginan anaknya, walaupun ia dalam keadaan sakit. Begitu banyak jasa seorang ibu dalam kehidupan seorang anak. Kasih sayang seorang ibu begitu nyata dan tulus pada anaknya, ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Sebab yang ada di pikiranya hanya anak dan anak saja. Bahkan ibu tak segan segan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan anaknya
Begitu banyak pengorbanan seorang ibu kepada anaknya karna baginya anaknya merupakan amanah dan anukrah terindah yang Tuhan titipkan padanya apapun dan bagaimana pun keadan sang anak seorang ibu dengan tulus hatinya akan menerima sebab bagi seoran ibu yang terpenting adalah bagai mana anaknya bisa menjadi orang yang lebih baik dari pada dirinya
Terima kasih atas semua pengorbananmu ibu mulai aku dikandungan mu engkau melahirkan ku dan sampai aku bisa sekarang seperti ini dan untuk semua pengorbananmu tak ada yang bisa menggantikan sesok seorang ibu  karna engkaulah wanita yang kuat berjuang demi semua keinginan anakmu tanpa engkau memikirkan bagaimana keadaanmu s
Ya Allah berikanlah kesehatan kepada ibu ku ampunilah dosanya berkahilah umurnya sanyagilah iya sebagai mana iya menyayagi ku di waktu kecil balaslah kebaikan ibu yang telah mendidikku berikanlah ganjaran kepada mereka yang telah memuliakanku, “Ya Allah ampunilah dosa yang  kuperbuat terhadap ibuku dan indahkanlah masa-masa tua ibuku, amin. (Tullisan Hermansyah, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut)

Selasa, 26 Desember 2017

SANG MALAIKAT KU


Dia seorang malaikat berwujud nyata yang dikirimkan Allah SWT untukku.
kenapa saya bilang ia malaikat? karena ia satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang mempunyai raga kuat, jiwa tegar, hati bersih dan ikhlas dalam segala aspek kehidupan.
Dia makhluk yang tak pernah mengenal kata lelah walupun sebesar apapun masalah yang di hadapinya. Ia hanya memikirkan kenyamanan, kebahagiaan, dan masa depan anaknya. Sebab itu sapaan pantas untuknya adalah “IBU”.
Ibuku adalah seorang ibu sekaligus ayah buatku. Ia guru saya di rumah yang mengajarkan saya segala hal. Pemimpin saya di dalam rumah tangga, ia wanita kuat, wanita tegar, wanita tangguh yang pernah saya kenal seumur hidup saya.
Sungguh saya salut pada ibu, ia yang kini hidup sendiri tak ada lagi tempat bercerita baginya. Tak ada lagi orang yang selalu mendampinginya dalam apapun yang mereka lalui bersama. Walaupun kini ia telah sendiri tapi semangatnya untuk saya sebagai anaknya tak pernah hilang. Ia yang selalu mendorong saya untuk selalu mendapatkan hasil terbaik.
Dia tak pernah mengharapkan balasan untuk segala apa yang dia lakukan, karena jerih payahnya sehingga aku bisa melanjutkan pendidikan saya sampai saat ini. Semua ini karena pejuangannya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Dia yang tak pernah mengeluh, padahal saya tahu dirinya sangat lelah.
Dia tak pernah ingin menunjukkan kekecewaan, disaat anaknya berbuat salah. Justru terus mambangkitkan semangat anaknya agar lebih baik dan tidak mengulanginya. Hal itu dilakukannya karena yang diinginkan ibu adalah kebahagiaan anaknya.
Dia yang sekarang terus melawan rasa takut dan memberanikan diri untuk tinggal di rumah, dan selalu memikirkan kondisi anaknya yang jauh darinya. Ya walaupun begitu semangatnya untuk melihat senyum anaknya tak pernah luntur. Semangat jiwa bersabar nya lah yang membuat aku kagum padanya.
Ia adalah malaikat bagi saya. Sekarang saya sadar apa saja yang dilakukannya hanya untuk kehidupan kami ke depannya. Segala kebaikannya,perjuangannya untuk saya, takkan pernah bisa dilupakan karena satu-satuya yang saya punya. Karena hanya dia yang ingin saya bahagiakan, karena hanya dia yang selalu mengerti bagaimana sifat baik dan buruk saya.
Dia yang mengenal bagaimana saya. Dia adalah wanita sempurna bagi saya dan berjanji pada diri ini, semua kelelahan ini akan kugantikan dengan senyuman ikhlas nan panjang dari bibirnya, karea keberhasilan saya kelak.
Tak ada yang lain yang ingin saya bahagiakan kecuali ibu saya. Tak  ada yang membuat senang hatiku kecuali ibu ,akan kugantikan semua kelelahannya selama ini. (Tulisan Rizqina Aziza Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sumut)


IBU ADALAH SEGALANYA

Di dalam hidup ini akan ada masanya dicintai dan mencintai. Masanya dicintai mulai dari alam kandungan sampai kita tiada lagi. Masanya kita mencintai, sejak dilahirkan sampai menghembuskan napas terkahir.
Cinta itu kita dapatkan bukan dari sembarang orang melainkan dari orangtua sendiri, karena cinta merekalah yang kekal selamanya, terutama cinta ibu kita. Karena ibu yang merawat dan membesarkan kita sehingga apapun yang kita raih adalah buah cinta kasinya dia.
Tanpa ibu kita tidak tau akan segala hal, ibu mengajarkan kita berbagai macam, dari yang paling kecil hingga yang sangat besar. Ibu adalah wanita paling sanggup menjaga ketika kita sakit. Berbeda dengan ayah, yang mungkin tidak sanggup menjaga kita satu malaman.
Mungkin pembaca akan bertanya kenapa saya mengangkat judul ini, dan kenapa hanya ibu yang sangat berjasa. Padahal ayah juga termasuk dalam kategori ini mungkin akan begitu dalam benak pembaca.
Yah saya akan menjawabnya. Mungkin ini dikarenakan saya hanya merasakan kasih seorang ibu saja. Sebab sewaktu saya masih kecil, ayah sudah tiada, kira-kira saya masih berumur 6 tahun. Jadi ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga kami, ibulah yang merawat kami, yang menafkahi kami, yang mendidik kami, sampai saya bisa kuliah sekarang ini, jadi ibu lah segalanya bagi kami.
Pernah pada suatu hari saya sangat terpuruk pada satu keadaan, yang menurut saya paling berat yang pernah terjadi. Dimana saat ayah kami menghembuskan napas terkahirnya.
Saya berpikir saat itu, bagaimana kami akan hidup, bagaimana kami akan damai, bagaimana hidup kami tanpa sosok ayah, tapi ibu merangkul saya lalu berbisik, nak Allah SWT tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya.
Kamu tidak perlu bersedih, kamu tidak perlu memikirkan masalah-masalah yang akan datang, itu semua akan berlalu, yang terpenting sekarang ibu bisa mendidik kamu dan menyekolahkan kamu, begitulah kira-kira yang disampaikan ibu.
Selain ibu tulang punggu keluarga ibu adalah salah satu tempat curhat saya, baik itu curhat pelajaran, curhat hari-hari yang jenuh, curhat dengan perasaan yang bimbang, curhat dengan perasaan yang bergejolak asmara, ibu adalah satu-satunya wanita yang mengerti akan hal itu, ibu memberi nasihat, memberi peluang untuk saya menangis, memberi peluang untuk sata berteriak, ibu akan memberikan solusinya atas masalah yang dihadapi.
Jadi ibu adalah segalanya bagi saya, mungkin tidak hanya bagi saya, kawan-kawan juga akan beranggapan bahwa ibu itu adalah wanita satu-satunya yang akan menjadi kekasih terhebat yang pernah hidup sebelum ayah.
Jika orang tua masih ada tolong jaga hati dan perasaan mereka, karena belum tentu besok-besok itu masih bisa, jika sekarang masih ada rasa marah, dendam atau semacam apalah itu segera hapuskan marah dan dendam itu.(Tulisan Zana Anzani Nasution, Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sumut)


IBU PENYEMANGATKU

Ibu adalah sosok mulia yang selalu hadir di dalam jiwaku, walau jauh mata, tapi tetap hadir di dalam jiwa. Ibu adalah orang yang tak akan pernah terbalas jasanya, walau bertumpah keringat dan bersimpuh darah demi membalas jasa ibu, namun seorang anak tidak akan mampu membalasnya.
Selain itu, ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Ibu yang memelihara, membesarkan dan mengajari anaknya, hingga tumbuh besar dan sehat.
Ibu memang tak akan pernah meminta balasan jasa yang telah diberikan kepada anaknya. Namun sebagai anak, saya harus membayar jasa ibu dengan cara berusaha sekuat tenaga membahagiakan nya.
Inilah alasan saya mengatakan, seorang ibu adalah penyemangat. Ibu mendidik kami dengan caranya sendiri, meski ditengah gempuran hidup yang begitu keras, ibu tetap tak mengeluh.
Pelajaran itu ibu berikan kepada saya, dan saya melihat ibu menghadapi segala masalah tanpa mengeluh. Jika tidak ada, diada-adakan. Jika tidak cukup, dicukup-cukupkan. Inilah yang membuat saya bersemangat menjalani hidup. Dalam hati saya bercita-cita, harus mampu mengubah kehidupan keluarga demi membahagiakan ibu.
Saat jauh dari ibu, rindu tak tertahankan. Namun rindu itu saya jadikan motivasi dan penyemangat bahwa ada seorang ibu yang harus dibahagiakan. Begitupun diwaktu saya tidak memiliki semangat menjalani kehidupan. Satu-satunya caya agar saya kembali bersemangat adalah mengingat dan membayangkan pengorbanan ibu, mulai dari melahirkan, membesarkan, mendidik tanpa jenuh.
Dengan merenungkan hal itu spontan saya kembali bersemangat, sebab hadirnya ibu walau hanya dalam hati, aku terus teringat niat dan cita untuk membahagiakan ibu, sebagai bentuk balas jasa.

Bagi saya ibulah tempat pengaduan yaang paling tepat. Kehadiran sosok ibu Insha Allah masalah apapu dapat terselesaikan. Menurut saya semua orang pasti ingin membahagiakan ibunya. Apalagi saya sudah dibesarkan dan di sekolahkan hingga bangku kuliah. Ibu saya adalah seorang penyemangat. (Tulisan Andri Siregar, Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sumut)