Kamis, 15 Desember 2016

PENGETAHUN PALING SEMPURNA ADALAH AL QUR’AN

Kenangan bersama Ayahanda 
Acara selanjutnya...!
Tausiyah Al Mukarrom Ayahanda Pimpinan Pondok Pesantren Syekh Ahmad Daud. Begitu saya mendengar protokol menyampaikan mata acara berikutnya dari podium utama,  tanpa berpikir panjang, posisi tempat duduk sedikit ku geser, karena tak mau ketinggalan. Bang Bunyamin juga ikut menggeser tempat duduknya.
Sponton Bang Bunyamin mengatakan, “Saya senang ayahanda masih bisa memberikan nasehatnya, saya selalu merindukan lantunan nasehat-nasehat beliau”. Dalam hati saya memanjatkan do’a, “Ya Allah, panjangkan umur guru kami ini, amin”.
Sebelum menyampaikan tausiyah, hujan baru saja berhenti, hembusan angin sepoi-sepoi menambah dinginnya malam. Sementara, suara gaduh anak-anak mengaji masih terdengar, disebabkan ada yang belum dapat konji-konji (panganan yang disediakan panitia saat pengajian/peringatan hari besar Islam).
Belum ada salam, tapi suara khas itu terdengar. Suara yang membuat bergetar jiwa dan raga, suara yang barangkali setan pun akan ketakutan jika mendengar alunannya. Suara yang hanya dapat dipahami hati. Suara yang hingga detik ini menjadi cambuk dikala lalai mengingat Sang Khalik. “Masiap na mambagi konji-konji i?, Cepat bo, so mulai hita! (cepatlah agar kita mulai).
Seperti dihamtam air bah, saat itu juga suasana menjadi hening. Salampun terucap, tak seperti muballigh di-tv, hanya ucapan hamdalah, shalawat dan salam, pengajian pun dimulai.



Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran : 18).
Yang mangakui adanya Allah ada 3 golongan. Pertama Allah, kedua Malaikat dan ketiga Ulul Ilmi. Golongan ketiga inilah yang menjadi kewajiban kita. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengenal diri kita sendiri.
Sekarang banyak manusia yang tidak mengenal dirinya. Lihatlah anak-anak tadi, baru kelas 1 sudah berbicara marbagas (pernikahan), oppung-oppung pun (nenek/kakek) begitu tak sadar diri, sudah tua berlagak muda, dari penampilan dan cara berpakaian.
Kemudian, manusia itu terdiri dari 2. Pertama jasad dan kedua ruh. Ibarat sebuah kota, badan adalah kota tempat segala kehidupan di dalamnya. Mobil, rumah, sawah, sekolah dan jabatan tempatnya adalah badan. Yang menjadi rajanya adalah akal. Ketika akal menjadi raja yang lalim, alamat akan hancurlah kota tersebut. Oleh karena itu, sang raja sejak dini harus diberi pengetahuan dan pengetahuan paling sempurna adalah al Qur’an.
Lalu siapa yang jadi bala tentaranya? Mereka adalah panca indra dan pancca bathin. Tentara inilah yang menjaga rakyatnya agar tidak leluasa keluar masuk kota. Bila tentara lemah,  kerajaan akan mudah goyah dan bahkan binasa akhirnya.
Sementara rakyatnya bernama nafsu, Ammaroh (nafsu syaiton), Lawwamah (nafsu binatang) dan nafsu muthmainah. Ketiga nafsu ini ada dalam diri kita. Untuk itu tentara harus benar-benar menjaganya. Terdakang sudah ada pengawal, bisa juga kecolongan, banyangkan jika tanpa pengawalan, alamat akan binasalah kota itu.
Karena itu, ingatlah. Terkadang Allah SWT membiarkan dosa kecil yang kita lakukan, agar suatu saat kita menyadari kesalahan yang kita perbuat. Kita tidak boleh lebih takut kepada yang johir (nyata) ketimbang kepada yang ghaib. Sebab yang ghaib itu mengawasi kita sepanjang waktu.
Inilah mungkin inti maulid tahun ini yang dapat saya tuliskan dari apa yang disampaikan ayahanda kita. Tentu dalam penulisan ini ada kekurangan, untuk itu kepada keluarga besar ayahanda saya mohon maaf, tidak ada niat lain semata rasa hormat dan kemuliaan beliua dimata kami. Seloroh adalah tak pantas dari kami dan izinkan kami tetap menjadi muridmu duhai Ayahanda kami.
Tulisan ini saya sampaikan semata-mata untuk berbagi dengan rekan-rekan se-Aek Litta dimanapun berada. Ayahanda kita berpesan, “Jika ananda semua masuk surga, tolong bawa saya. Dan jika saya masuk surga, saya berjanji akan membawa ananda juga”. Ini adalah kata tausiyah terakhir beliau pada acara maulid tersebut.
Sehabis acara ayahanda juga memberi nasehat lagi, “Orangtuamu dua, orangtua lahir, ima namangalahirkon ho. Paduana orangtua bathin, ima guru-gurumu. Rap sarupo doi, rap indo tola durhaka. Murka ni haduana, murka ni Tuhan mai, jago da ulang durhako iba namar ina, ulang durhako namar guru”.
Zaman on mamatobang. Jeges dibaen namambaca al Qur’an i, adong do guru i mambaca, “Halalal toyyibah” manjadi “Halalan tu iba”, tu sia halal tu halak inda. Tu halak malodoi mandokkon na ulang korupsi, ulang manipu, ulang margabus. Tibo tu sia manjadi “Halalan tu iba, boti ma on,”.
(Tulisan Taufik Akbar Hasibuan, alumni PPSAD tahun 2005/ditulis kembali Mursal Harahap, S.Ag, M.Kom.I alumini PPSAD tahun 1995)


Sabtu, 10 Desember 2016

95 CONNETION FASYIH UIN SU GALANG DANA UNTUK ACEH

Gempa bumi berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang beberapa daerah di Provinsi Aceh, di antaranya ; Busugan, Meukobrawang, Pangwabaroh, Meuko puue, Tanjong, Meukorumpuet, Panteraja, Angkieng, Pohroh dan lainnya.
Pusat gempa bumi terletak pada 5,25 LU dan 96,24 BT, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km.
Sebagai sesama anak bangsa, tentu kita turut berduka cita atas musibah yang terjadi di Aceh, dan dalam rangka ikut berperan serta meringankan beban warga Aceh yang menjadi korban gempa, 95 Connection melakukan penggalangan dana dan bantuan.
“Kami mengetuk hati sahabat-sahabat 95 Connection menyisihkan sebagai rezekinya untuk disumbangkan kepada korban gempa di Aceh,” kata Ketua 95 Connection Mursal Harahap, S.Ag, M. Kom.I.
Direncanakan, bantuan dari sahabat-sahabat akan disalurkan secara langsung kepada korban gempa. Bentuk bantuannya akan disesuaikan dengan kebutuhan mendesak para korban gempa yang kini berada di pengungsian.
Oleh karena itu, kami sangat berharap uluran tangan dari sahabat-sahabat 95 Connection, dan semoga apa yang kita lakukan ini menjadi bagian dari amal kebajikan kita semua di mata Allah SWT.
Sekedar informasi, 95 Connection adalah wadah yang didirikan alumni Fakultas Syariah IAIN Sumut (kini menjadi UIN Sumut), stambuk 1995. Wadah ini dibentuk pada saat reuni yang dilaksanakan beberapa bulan yang lalu di Aula UIN Sumut.
Saat ini, donasi yang telah diberikan sahabat-sahabat 95 Connection sudah mencapai Rp6.000.000. Selain dalam bentuan uang, ada juga bantuan berbentuk barang yang diberikan sahabat-sahabat 95 connection.

Kami masih menunggu donasi dari sahabat-sahabat yang lain, sebelum bantuan ini kita salurkan, ada atas bantuannya kami ucapkan terima kasih. (***)
 

SERAMBI MEKAH KEMBALI BERDUKA

Warga Aceh  berduka
Serambi Mekah kembali berduka setelah gempa berkekuatan 6,5 skala ritcher mengguncang jelang subuh. Sebagian warga sudah bangun untuk melaksanakan shalat, namun ada juga yang masih tertidur. Gempa yang datang tiba-tiba, sontak mengagetkan. Bahkan tidak sedikit yang menjadi korban tertimpa reruntuhan bangunan. 
Tentu ada yang meninggal, ada juga yang hanya mengalami luka-luka. Gempa bumi tersebut telah membuka luka lama, ketika musibah yang sama terjadi pada 2004 silam. Tak hanya mengakibatkan sejumlah bangunan, gempa Aceh yang terjadi Rabu (9/12) pagi pun memupuskan harapan Yusra Fitriani. Persiapan acara preh linto yakni budaya Aceh menunggu calon mempelai laki-laki, sudah dipersiapkan di salah satu rumah Gampong Dayan Timu, Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.
Suharnas dan kekasihnya, Yusra Fitriani, harusnya mengikat janji suci sebagai pasangan suami istri pada Kamis 8 Desember. Namun, nasib berkata lain. Calon pengantin pria, Suharnas, harus menghadap Sang Ilahi setelah gempa mengguncang Aceh, Rabu 7 Desember 2016 pagi.Saat gempa 6,5 Skala Ritcher mengguncang Aceh, Suharnas tengah berada di rukonya, Meureudu, Pidie Jaya.
Dia tak sempat menyelamatkan diri sehingga tertimbun reruntuhan bangunan. Selain Suharnas, 3 orang adik, kakak, dan seluruhanggota keluarganya yang datang dari Padang untuk menghadiri acara perkawinannya, juga tewas terjebak dalam puing-puing ruko."Hari ini adalah hari pernikahan antara saudara kita di Padang ini dengan orang di Pidie Jaya ini, cuman Allah berkata lain, semua keluarga yang datang pada malam itu semuanya sudah meninggal," ujar kerabat korban, Yusri Abubakar, Kamis 8 Desember 2016.
Tidak hanya Suharnas dan keluarganya, setidaknya di Komplek Ruko di Ulee Gle, Pidie Jaya ini 23 orang tewas terjebak reruntuhan bangunan. Sementara 40 ruko ambruk meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan orang-orang tercinta.
Gempa Aceh juga menewaskan pasangan suami istri, H Rajali dan Harfiah. Keduanya tewas terjebak di reruntuhan ruko mereka di Desa Meusanah Kaye, Jato, Sigli. Sang suami terjebak usai berwudu dan hendak menunaikan salat Subuh.
Pada pukul 11.00 WIB, jasad Rajali berhasil dievakuasi. Tubuhnya yang sudah terbujur kaku ditemukan di dekat pintu masuk ruko. Sementara jasad sang istri hingga pukul 14.00 WIB Rabu 7 Desember, belum ditemukan."Mereka terperangkap saat suaminya jelang (salat) subuh, habis wudu," kata Joni,salah seorang warga yang tempat tinggalnya tidak jauh dari lokasi kejadian.
Beberapa jam setelah gempa, alat-alat berat mulai mengeruk puing-puing dan material bangunan yang runtuh, sehingga berhasil menemukan sebagian korban."Dia (korban) sempat keluar untuk salat Subuh, tapi ke rumah lagi pas gempa selamatkan istrinya," kata Joni.
Pencarian korban gempa di Aceh
Bencana gempa memang tak memilih-milih korbannya. Di gampong (Desa) Kuta Pangwa, Kecamatan Tringgadeng, Pidie Jaya, seorang ibu yang tengah hamil hamil tujuh bulan ikut menjadi korban. "Almarhum sedang hamil dan masuk bulan ketujuh," kata Sekretaris Gampong (Desa) Kuta Pangwa, Kecamatan Tringgadeng, Zulkifli, dengan mata berkaca-kaca sembari menunjuk jenazah korban yang terbujur kaku di antara jenazah korban lainnya. (***)

FADLY ; PANCASILA KOMITMEN KEBANGSAAN YANG WAJIB DIPERTAHANKAN


Anggota MPR/DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP), H. Fadly Nurzal S.Ag, mensosialisasikan empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Kampus Pancing Jalan William Iskandar Medan Estate, baru-baru ini.
Hadir pada kegiatan itu, Dekan Fakutas Syariah dan Hukum DR. Zulham, M. Hum, Wakil Dekan I, DR. Andre Soemitra, MA, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dr. phil. Zainul Fuad, MA dan sejumlah tamu undangan serta peserta sosialisasi empat pilar kebangsaan.
Pada kesempatan itu, Fadly Nurzal memaparkan pengaruh perkembangan zaman terhadap Pancasila. Menurut Fadly, di era digital saat ini, dunia yang begitu luas bisa menjadi kecil. Bahkan, budaya luar sangat mudah masuk di tengah-tengah masyarakat.
“Kalau kita tidak bijak menerima informasi yang tersebar, tentunya sangat berdampak kepada negara. Coba perhatikan sekarang, budaya asing mulai mengikis budaya kita yang ramah tamah dan sopan santun,” ucapnya.
Disebutkan Fadly Nurzal, para generasi bangsa saat ini harus lebih berani menyampaikan atau mengutarakan gagasan serta pemikiran positif pada sebuah forum. “Di zaman yang serba digital semuanya harus menjadi perbal. Artinya kita harus berani menyampaikan pikiran secara terbuka. Kalau tidak, orang pintar sekalipun akan tertinggal,” sebutnya.
Lebih jauh dikatakan Fadly, masyarakat Indonesia sangat hebat karena memiliki kebhinnekaan. Ada berbagai macam suku di Indonesia dan bersatu bersama.
“Adanya komitmen kebangsaan serta kesepakatan keberagaman suku dan budaya inilah terbentuk Pancasila,” paparnya.
Fadly Nurzal mengatakan pancasila sebagai dasar Negara merupakan modal utama dalam menjaga kebinekaan. Seluruh perilaku dan sikap serta komitmen berbangsa dan bernegara harus mengacu dan mempedomani nilai-nilai Pancasila.
“Jika seluruh bangsa ini mengamalkan nilai-nilai pancasila, saya yakin bangsa ini sudah sejak dulu maju dan sebagaimana negara-negara yang sudah maju,”sebut Fadly.
Memang harus kita akui, lanjut Fadly ada skenario besar yang tidak mau Indonesia maju. Karena jika Indonesia maju, akan mengganggu kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Untuk menghambat laju kemajuan bangsa kita, jelas Fadly, rakyat Indonesia harus dijauh dari Pancasila sebaga dasar negara, dan target utamanya adalah generasi muda.
Skenario tersebut, dikemas dalam bentuk gangguan-gangguan, mulai dari gangguan budaya, idiologi, ekonomi, sosial politik dan sebagainya. “Narkoba salah satu gangguan dengan target utama generasi muda. Maka saat ini kasus narkoba sudah masuk ke seluruh kelompok umur dan status social,”ucapnya.
Dibagian beberapa peserta sosialisasi mengungkapkan, bahwa Pancasila harus menjadi style kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Jika tidak, pancasila hanya sebagai sebuah dokumen usang. Ibarat rumah, bangunannya adalah Pancasila, aturannya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Karena itu, orang yang ada di rumah tersebut wajib mengamalkan dan melaksanakan aturan-aturan yang digariskan pancasila.

“Kalau pancasila hilang, itu sama artinya bangsa ini juga telah hilang,”kata beberapa peserta sosialisasi. (***)

Rabu, 07 Desember 2016

LELAKI ITU HILANG BERSAMA FAJAR

Tepat pukul 06.00 pagi, aku terbangun dari tidur yang begitu pulas. Badan terasa segar, setelah sebelumnya begitu letih menjalani rutinitas belajar. Semangat dan kebugaran itu menjadi modal besar menghadapi pelajaran berat hari ini tepat pada hari Jum’at.
Waktu yang terus berlalu, memaksaku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, untuk selanjutnya bersiap-siap berangkat ke sekolah. Saat mengambil handuk, mata tertuju ke celah pintu yang tidak tertutup rapat.
foto by google
Tampak ibu tercinta sedang menyiapkan sarapan pagi. Wanginya yang masuk terbawa angin, menggelitik selera makanku. Terbayang enak dan gurihnya saparan yang disipakan ibu pagi ini. Akupun bergegas mandi dan berpakaian, begitu selesai langsung menghampiri meja makan.
Aku melihat Ibu sedang membersihkan piring dan di atas meja makan telah terhidang sarapan yang sempat menggelorakan rasa laparku. Sebelum menyantap sarapan, ibu berkata “ Rustom (itu namaku), hari ini ibu hanya memasak ubi goreng untuk sarapan. Setelah pulang sekolah, kamu langsung ke ladang memetik daun ubi ya”, kata ibuku.
Aku pun mengangguk tanda mengerti apa yang ibu sampaikan. Sambil menyantap ubi goreng nan gurih, nikmat dan makyos, aku bertanya pada ibu. “Ibu, ayah kemana? Seminggu terakhir ini saya tidak melihat ayah di meja makan ini? Apakah ayah sudah berangkat kerja, karena aku tidak melihatnya sejak bangun tadi pagi. Dimana ayah Bu?
Sederet pertanyaan yang saya ajukan, tidak dijawab ibu. Ia hanya mengatakan, “Sudahlah, habiskan saparanmu dan cepat berangkat sekolah. Ibu tidak mau melihatmu terlambat!
Setelah pamit, saya pun berangkat ke sekolah menggunakan sepeda kayu yang dibuat ayah. Imajinasiku selalu muncul saat mengayuh sepeda dengan kencang. Rasanya aku sedang berada di atas motor sport. Hahaha...maklum di kampung kami, masih sangat jarang orang memiliki motor sport.
Sampai di sekolah, tidak banyak yang aku lakukan. Aku adalah orang yang kurang suka bermain dan melakukan interaksi sosial. Aku lebih senang menepi dari keramaian. Persisnya, aku tidak ingat mulai kapan berperilaku seperti itu. Namun yang pasti, aku merasa nyaman dalam kesendirian, karena merasa punya dunia sendiri.
“Teng..teng...teng” lonceng berbunyi mendenting pertanda dimulainya pelajaran sekolah. Aku pun bergegas masuk ke kelas dan mengikuti seluruh pelajaran pada hari itu.
Setelah seluruh pejaran selesai, lonceng kembali berbunyi pertanda jam sekolah sudah usai. Sesuai perintah ibu tadi pagi, akupun bergegas ke ladang untuk memetik daun ubi.
Sampai di ladang, aku bertemu seorang laki-laki tua berjenggot dan berambut panjang. Ku hampir lelaki tua itu dan berbincang dengannya. “Maaf pak, apa yang bapak lakukan disini”? Apakah bapak dari kampung seberang?.
Mendengar pertanyaan ku itu, lelaki tua itu hanya tersenyum lebar, dan berkata “Kau persis seperti anakku, ketika ia masih sesuai denganmu, dan cara bertanyamu ambisius. Aku disini untuk membantu sispapun yang menginginkan jasaku”jawabnya.
Mendengar jawaban pak tua itu, seketika aku teringat ayah, apa yang ia lakukan sekarang! Keingintahuan itu mendorongku untuk mengetahui kemana ayah sebenarnya. Apalagi bapak tua yang kutemui mengatakan siap membantu siapa saja yang membutuhkan jasanya. Seketika akupun meminta bantuan bapak tua tersebut untuk mencari ayahku.
Setelah selesai memetik daun ubi dan bapak tua yang kutemui melanjutkan perjalanannya, aku pun pulang ke rumah. Sesaat setelah tiba, aku langsung menemui ibuku dan bertanya, “Ibu, kemana sebenarnya ayah, sudah seminggu aku tidak melihatnya,”.
Ibu berkata “ Sudahah nak, ayahmu sedang bekerja”. Pertanyaan kulanjutkan, kenapa malam ayah juga tidak pulang? Lalu ibuku memberikan penjelasan, “ Ayah sebenarnya bukan tidak pulang nak, hanya saja ayah pulang larut malam, sedangka engkau sudah tidur, jelas ibu.
Lantas dengan nada memaksa, aku meminta ketegasan. “Jadi Bu.., sebenarnya kemana ayah. Apakah ia bekerja?. 
Dengan menghela nafas, ibu kemudian berkata, “Nak... sebenarnya ayahmu bekerja di kampung seberang. Ia bekerja pada saudagar kaya yang memiliki toko. Ayahmu bekerja di toko tersebut. Karena tidak memiliki kendaraan, pagi-pagi sekali harus pergi sebelum fajar terbit, tepat pukul 5 pagi, sedangkan engkau belum bangun.  Dan ayah mu pulang sekitar jam 10 malam, sementara engkau sudah tidur. Jadi sudah seminggu ini ayah mu bekerja di toko itu. Itulah sebabnya seminggu ini kau tidak melihatnya. Ubi yang di ladang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, ”kata ibu.
Begitu ibu menyelesaikan jawabannya, hatiku langsung bergetar dan tanpa kusadari bulir air mata meleleh dari ujung mataku. Sedih, haru dan bangga bercampur aduk di dalam hatiku.
Melihat aku menangis, ibu berkata, “Sudahlah nak, jangan menangis. Ayahmu baik-baik saja di sana dan ia ikhlas melakukan semua itu demi kita”. 
“Baiklah bu, jawabku. 
Di dalam hati aku bergumam, “Sungguh berat tanggungjawab seorang ayah". Akupun menyadari kenapa laki-laki itu hilang bersama fajar, itu karena cinta serta kasih sayangnya, demi menghidupi keluarganya. (tulisan  Muhammad Agil Rais, mahasiswa semester 1 Jurusan Akhwalussyakhsiyah, Fak. Syariah dan Hukum, UIN Sumut).

Selasa, 06 Desember 2016

“KECEMBURUAN” AYAH !

Dia adalah sosok laki-laki penuh kesabaran, tanggungjawab, tegas, kuat, pekerja keras dan bijaksana. Dibenci tapi dirindu, terasa tepat untuk menjelaskan posisinya.
Sifatnya yang tegas dan terkesan protektif, membuat dirinya terkesan dibenci. Lalu sifatnya yang selalu siap memberikan perlindungan dan bertanggungjawab, sehingga kehadirannya selalu dirindukan. Di dalam keluarga, ia adalah seorang pemimpin, imam serta panutan. Dia adalah Ayah.
Ayah adalah satu kata yang mengingatkan akan sosok laki-laki kuat, bertanggungjawba, pekerja keras dan bijaksana. Meskipun dalam prakteknya dalam kehidupan, jika seseorang dihadapkan pada pilihan, lebih ingin dekat dengan ibu atau ayah, kebanyakan para anak lebih memilih ibunya.
Pilihan inilah yang kemudian melahirkan rasa cemburu para ayah. Cemburu karena anak-anaknya lebih memilih dekat kepada ibu. Meskipun banyak pendapat mengamini dan menilai adalah sebuah kewajaran jika anak-anak lebih memilih ibu daripada ayah. Kedekatan seorang ibu dengan anaknya. Padahal kasih sayang yang diberikan sama, hanya saja penyampaian berbeda.
Ayah setiap hari membanting  tulang, mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga. Apakah kita tahu yang diinginkan setelah lelah bekerja. Ia ingin sekali kita  ada didekatnya dan menanyakan keadaannya.
Tapi terkadang kita asik dengan gadget. Hal itu menimbulkan rasa cemburu pada ayah. Ayah yang tadinya ingin mendapat perhatian mu, tidak ia dapatkan karena kesibukanmu dengan gadget. Perasaannya kecewa, yang awalnya ingin membuatmu senang dengan memberikan fasilitas akan tetapi tidak digunakan dengan baik.
Sebenarnya ia ingin melarangmu, tapi ia takut menyakiti hatimu. Walaupun ia cemburu dengan perlakuanmu yang terlalu asik dengan gadget. Ia hanya diam saja. Kalaupun rasa cemburu tidak bisa dibendung, ia tidak sengaja membentakmu untuk menyalurkan kecemburuannya, agar kita tahu membagi waktu dengannya, dan tidak hanya asik dengan gadget.
Tapi terkadang hal itu membuat kita marah. Hatinya hancur melihatmu malah balik marah padanya, tapi ia tetap berusaha bijaksana. Ia tidak ingin membujukmu, namun menyuruh ibu membujukmu. Sekali lagi ini dilakukan agar tetap terlihat bijaksana dihadapanmu.
Dan ketika kita meminta izin keluar rumah, ia tidak memperbolehkannya. Tahukah kamu alasan mengapa ayah melarangmu, ia takut bahaya-bahaya yang ada di luar sana. Bathinnya sangat bergejolak, karena ia sangat ingin menuruti keinginanmu tapi tetap menjagamu.
Ketika saat libur, ia sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktunya bersamamu, mendapatkan perhatianmu dan merasakan diistemewakan walaupun sehari saja. Akan tetapi kita asik menghabiskan waktu libur bersama teman-teman. Ayah ingin melarang, tapi ia takut, takut membuatmu sedih dan akhirnya merelakanmu pergi.
Ketika ayah melihatmu mulai dekat dengan seorang pria, lagi-lagi ia merasa cemburu. Ia cemburu karena perhatianmu terbagi dengan orang lain dan sekali lagi ia tidak terlalu berani melarangmu karena ia tahu bahwa kau sudah beranjak dewasa. Ia hanya bisa melihatmu dan menjagamu dari jauh. Semua rasa cemburunya terlihat seperti rasa marah, hanya kita tidak mengerti apa yang dia rasakan.
Ia hanya minta perhatianmu, perhatian yang kau berikan kepada ibu, gadget, tema-teman dan pada pria yang telah mencuri perhatianmu. Ia ingin perhatian itu dicurahkan kepadanya walaupun hanya sehari saja. Tapi akan kita tahu tentang hal itu, bahkan kita kebanyakan acuh dengan keinginan dan kecemburuan tersebut. (Tulisan :Yuliana, mahasiswa Semester I, Jurusan Siyasah- B, Fakultas Syariah, UIN Sumut)



Selasa, 08 November 2016

HATI DAN RASA TERSAKITI, MUNCULKAN AKSI 411

Aksi 4 November 2016 banyak memberi hikmah dan pelajaran, serta menorehkan sejarah Bangsa Indonesia. Sejarah yang menujukkan betapa umat Islam Indonesia adalah umat tetap istiqomah menjaga perdamaian dalam bingkai demokrasi.
Ratusan ribu bahkan jutaan umat Islam Indonesia melakukan aksi demo pada
411 menuntut penegakan hukum dan keadilan atas dugaan penistaan agama 
yang dilakukan Gubernur DKI non aktif Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.
Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan umat Islam Indonesia, bergandeng tangan, di Ibukota Negara dan berbagai wilayah, dengan satu tuntutan menegakkan keadilan atas dugaan penistaan agama dan kitab suci Al Qur’an.
Peristiwa 411 adalah keja dian langka dan mungkin baru pertama kali terjadi. Partai politik, tokoh nasional atau siapapun, akan sangat sulit mengulang momentum tersebut atau tidak mungkin dilakukan seorang manusia Indonesia.
Lalu apa yang menggerakkan massa yang begitu banyak dari berbagai penjuru negeri, mereka datang tanpa diundang, tidak dibiayai dan tidak difasilitasi, serta tidak dimobilisasi. Jawabnnya adalah karena ‘Ada Rasa’.
Rasa sakit hati, karena agamanya dinistakan, kitab sucinya dilecehkan, ulamanya dituding membohongi umatnya. Rasa kecewa karena keadilan tidak ditegakkan sebagaimana mestinya. Rasa kecewa karena hukum tidak berjalan sesuai koridornya. Rasa khawatir bangsa ini akan tercerai berai.
Artinya bagi yang tidak muncul Rasa itu dihatinya, tentu orang tersebut tidak akan mengerti dan mampu memahaminya. Rasa sakit hatilah yang kemudian menggerakkan seluruh niat, langkah dan semangat umat Islam Indonesia untuk bergabung pada aksi demo 411 tersebut.
Perlu diingat, bahwa Al Qur’an adalah Firman Allah SWT, dan sejah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw hingga hari kiamat, Allah yang akan menjaganya dengan cara-Nya Allah sendiri.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Al-Hijr: 9).
Kemudian, sebagaimana diketahui, bahwa hati manusia diliputi oleh bermacam rasa. Ada sayang, benci,rindu, cinta dan perasaan lainnya yang kadang susah buat kita menafsirkannya. Begitu kompleksnya masalah perasaan dalam hati manusia ini, sehingga kadangkala susah membedakan antara airmata bahagia ataukah airmata duka. Manusia sendiri sering bersembunyi dibalik airmuka yang tidak diketahui oleh sesamanya mengenai apa yang tersimpan di lubuk hatinya, walaupun sering dikatakan bahwa airmuka menunjukkan isi hati seseorang.
Memahami isi hati seseorang bukanlah hal mudah dan dapat dipahami langsung hanya dalam waktu singkat. Pengenalan pada diri seseorang itu dilakukan seumur hidup, karena itulah tidak baik ketika bertemu hanya dalam beberapa kali, langsung menilai seseorang dengan karakter tertentu, apalagi sampai men-judge orang tersebut, itu bisa jatuh kepada fitnah. Padahal hanya Allah lah yang mengetahui isi hati manusia.
“Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu”. (QS An Nuur 24 : 64)
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (QS Az Zumar 39 : 22)
“Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. (QS An Nahl 16 : 23).
Jelaslah, kalau Allah yang membukakan hati umat Islam Indonesia untuk berjuang membela Agama Islam dan Al Qur’an, maka tidak satu orang hamba pun yang mampu menghalanginya. Kalau Allah yang menguatkan hati umat Islam Indonesia untuk berjuang, maka seluruh proses perjuangan itu akan difasilitasi Allah.
Sebab itu kita tidak heran, begitu mudahnya orang berangkat untuk ikut aksi 411. Bahkan dengan mudahnya menyerahkan harta bendanya untuk membantu aksi 411, begitu banyaknya do’a yang dilantunkan meminta pertolongan Allah agar umat Islam Indonesia yang menuntut keadilan diselamatkan dan dilindungi.
Rasa inilah yang kemudian menggerakkan ratusan ribu bahkan jutaan umat Islam berkumpul menjadi satu, niat dan tujuan satu yakni menuntut keadilan dan penegakan hukum. Tanpa Rasa itu, untuk mengumpulkan begitu banyak umat dalam satu agenda, bukanlah pekerjaan mudah. Namun kalau Allah yang berkehendak, pasti akan terjadi, karena memang tidak ada yang sulit bagi Allah.
Allah Maha Menggerakkan, sebaik-baik pembuat rencana, pemegang hati dan jiwa hamba-Nya, Maha Melihat dan Mendengar, Allah penguasa langit dan bumi serta seluruh isi yang ada di dalamnya. Wallahu A'lam Bishawab. (***)