Kamis, 03 November 2016

KISAH BUAH SEMANGKA

Suatu riwayat tentang Syeikh al –Imam Syaqiq Al Balhk Wafat 194 H/810 M. Al Kisah pasa suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkh membeli buah semangka untuk istrinya. Saat buah semangka disantap istrinya ternyata rasa terasa hambar. Sang Istri pun marah..!

Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi kemarahan istrinya dengan tenang, dan setelah selesai mendengarkan kemarahan istrinya, beliau bertanya dengan nada lembut.
“Kepada siapakan engkau marah wahai istriku? Kepada Pedagang buahnyakah? atau kepada pembelinya? atau kepada petaninya yang menanamnya? ataukah kepada yang menciptakan buah semangka itu? Tanya Syeikh al-Imam Syaqiq.Mendengar pertanyaannya, Istrinya terdiam.
Lalu sambil tersenyum, Syeikh al-Imam Syaqiq melanjutkan perkataannya, “Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik. Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula. Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan buah yang terbaik...! dari itu, maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang menciptakan buah semangka tersebut...!
Syeikh al-Imam Syaqiq pun melanjutkan ucapannya: “ Bertaqwalah wahai istriku. Terimalah apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya, agar Allah SWT memberikan keberkahan kepada kita”.
Mendengar nasehat suaminya itu, sang istri pun sadar, menunduk dan menangis sembari mengakui kesalahanya. Istrinyapun kemudian ridho dengan apa yang telah ditetapkan Allah SWT.
Pelajaran penting buat kita dari kisah tersebut adalah, bahwa setiap keluhan yang kita ucapkan, itu sama saja kita tidak ridho dengan ketatapan Allah SWT, sehingga barokah Allah SWT jauh dari kita. Barokah bulanlah harus dimaknai dengan serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi barokah ialah bertambahnya ketaaan kita kepada Allah AWT dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai maupun sebaliknya.
Barokah itu ialah bertambahnya ketaatanmu kepada Allah SWT, dan ‘makanan’ barokah itu bukan kompisisi gizinya yang lengkap, tapi makanan yang mampu membuat orang yang menikmati makanan itu menjadi lebih taat setelah menyantap makanan tersebut.
Hidup barokah bukan hanya sehat, tapi terkadang sakit justru menjadi barokah sebagaimana Nabi Ayyub Alaihisalam, sakitnya menjadikan Nabi Ayyub bertambah taat kepada Allah SWT. Barokah itu tidak selalu panjang umur. Ada orang umurnya pendek, tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umar. Tanah barokah itu bukan karena subur dan panoramannya indah, karena tanah yang tandus seperti Mekkah punya keutamaan dihadapan Allah, tiada bandingan dan tiada tara.
Ilmu yang barokah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi ilmu barokah itu yang menjadikan seseorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal dan berjuang untuk agama Allah SWT. Penghasilan barokah itu bukan diukur dari gaji yang besar dan berlimpah, tatapi sejauhmana ia bisa menjadi jalan rezeki bagi orang lainnya dan semakin banyak yang terbantu dengan perhasilan tersebut, serta dibersikan dengan menuaikan zakat atas rezekinya tersebut.
Anak-anak yang barokah itu bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut, atau setelah dewasa mereka sukses bergelar dan mempunya pekerjaan serta jabatan hebat. Tapi anak barokah itu ialah anak yang senantiasa taat keada Rabb-Nya, dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari orangtuanya serta tidak henti-hentinya mendoakan kedua orangtuanya. Anak barokah itu penyelemat di akhirat.(***)

JANGAN LINDUNGI AHOK. (Tulisan Prof.Amin Rais)

SAYA tulis pendapat saya ini sebagai masukan kepada Bung Jokowi. Saya yakin kasus penistaan Ahok pada Alquran menuntut penyelesaian secepatnya, langsung di bawah pengarahan dan pengawasan Presiden. Lihatlah rangkaian demo yang makin marak di berbagai daerah.
Rentetan demo itu bersifat spontan. Intinya: permintaan maaf dari Ahok diterima, tapi proses hukum yang adil, jujur, dan transparan harus segera dilakukan.
Saya, sebagai seorang Muslim, sangat-sangat tersinggung dan terhina dengan ucapan Ahok bahwa ayat 51 Surah al-Maidah digunakan untuk membohongi masyarakat. Untuk memilih atau tidak memilih seseorang. Ucapan itu menyiratkan rasa benci Ahok pada Alquran, kitab suci umat Islam seluruh dunia, sejak 14 abad silam.
Alquran memberitahu kaum beriman bahwa ungkapan kebencian terkadang muncul jelas dari mulut-mulut pembenci Islam. Namun yang tersembunyi di dada mereka jauh lebih besar (QS Ali Imran: 118). Umat Islam Indonesia karena rasa tasamuh-nya (toleransinya) demikian besar, seringkali dianggap bodoh, mudah dibodohi, dan punya daya tahan istimewa menghadapi berbagai macam penghinaan. Penghinaan politik, penghinaan sosial, dan penghinaan ekonomi.
Umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, cukup marah dengan berbagai keputusan Menkumham sekarang yang cenderung memecah-belah berbagai kekuatan politik anak-anak bangsa. Tentu pemerintah bodoh karena usaha pecah-belah itu dalam jangka panjang akan jadi bumerang bagi pemerintah sendiri.
Akan tetapi, lihatlah berbagai kekuatan politik itu menelan kemarahan mereka. Semarah apa pun mereka tidak bergerak. Mereka tetap sabar.
Ketika masyarakat merasakan kehidupan yang makin sulit, pengangguran makin meluas, dan angka kemiskinan bertambah, rakyat tetap sabar. Mereka cukup geram, tapi tidak bergerak secara massal. Mereka tetap sabar sambil berharap semoga esok bisa lebih bagus dari hari ini.
Ketika kekuatan asing dan aseng menggenggam seluruh sektor ekonomi nasional, lagi-lagi umat Islam dan anak bangsa lainnya tetap bersabar. Lihatlah seluruh sektor ekonomi penting telah berada di tangan asing dan aseng.
Sejak dari properti, perbankan, pertambangan, pertanian, kehutanan, sampai perkebunan, dan lain-lain, sudah tidak lagi di tangan anak-anak bangsa. Penguasaan tanah di berbagai kota besar juga berada di tangan agen-agen kepentingan asing dan aseng. Tujuh puluh delapan persen tanah di DKI Jakarta sudah dimiliki oleh para benalu bangsa.
Marahkah rakyat Indonesia? Tentu! Tetapi mereka telan kemarahan itu dengan kesabaran yang tidak ada duanya di dunia. Lagi-lagi, rakyat hanya berkeluh-kesah, tapi tidak bergerak.
Ketika hukum dilaksanakan secara tebang-pilih atau diskriminatif, rakyat marah, tetapi tetap tidak bergerak. Ketika korupsi berskala raksasa jelas-jelas dilindungi, sejak dari skandal BLBI, Bank Century, deforestasi (penghancuran hutan), sampai yang terbaru skandal Sumber Waras dan reklamasi Teluk Jakarta, rakyat hanya berkeluh-kesah, geram, marah, nyaris putus asa. Tetapi mereka tidak bergerak. Sabar dan tetap sabar.
Nah, Bung Jokowi, kasus Ahok merupakan skandal dari jenis yang sangat berbeda. Berbagai skandal yang saya sebutkan di atas, cuma skandal berdimensi dunia, walaupun sangat menohok rasa keadilan rakyat.
Bung Jokowi, kasus Ahok mengguncangkan Indonesia karena Ahok sudah menyodok kesucian langit. Ahok sudah benar-benar kelewatan. Saya sependapat dengan KH Hasyim Muzadi, siapa pun yang berani menista Allah, Rasul-Nya, dan Alquran tidak ada yang bisa selamat. Mengapa? Karena umat Islam di manapun berada, tidak pernah bisa menerima penistaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Kitab Suci-Nya.
Mohon dimengerti pula usaha apa pun yang dilakukan untuk membelokkan fokus perhatian lewat berbagai cara agar skandal Ahok pelan-pelan menghilang, pasti akan sia-sia. Yang terjadi justru semakin ditunda penyelesaian hukum skandal Ahok, semakin tinggi risiko yang kita hadapi.
Setelah peristiwa skandal Ahok di Kepulauan Seribu, ia ngomong kacau lagi tentang Pancasila. Katanya, Indonesia yang berdasar Pancasila menjadi utuh hanya apabila minoritas sudah menjadi presiden. Tentu banyak rakyat yang marah pada celotehan ini, tetapi segeram apa pun rakyat tetap tidak turun ke jalan.
Semoga Bung Jokowi cukup arif untuk memahami bahwa skandal Ahok di Kepulauan Seribu itu telah menjadi bom waktu yang daya ledak sosial-politiknya dapat mengguncangkan sendi-sendi stabilitas nasional dan persatuan bangsa.
Akankah kita unggulkan seorang Ahok di atas kepentingan 250 juta bangsa Indonesia? Jasa besar apa yang pernah ditorehkan oleh Ahok untuk bangsa Indonesia?
Bung Jokowi, kami semua tahu bahwa Kapolri dan seluruh jajaran Polri berada dalam kendali Anda. Terus terang kasihan Kapolri harus memikul tanggung jawab untuk penyelesaian hukum kasus skandal Ahok dan menjadi sasaran kritik masyarakat sampai sekarang.
Lucunya, Anda belum berkata sepatah kata pun sampai sekarang tentang skandal Ahok. Sungguh aneh. Ada apa gerangan?
Bola penyelesaian skandal Ahok yang sangat berbahaya itu ada di tangan Anda. Hentikanlah permainan image building (pencitraan) Anda. Di sebuah kesempatan, Anda bicara, biarlah KPK mengurusi korupsi gede, sementara Anda yang kecil-kecil.
Pungli sepuluh ribu rupiah pun akan Anda kejar. Saya yakin decak kagum masyarakat yang dulu Anda nikmati, sekarang sudah berubah total. Rakyat kita sudah cukup cerdas, membedakan mana emas, mana loyang.
Saya doakan Bung Jokowi bisa mengambil langkah cepat, bijak, dan tepat. We are racing against time, kita berlomba dengan waktu.
Skandal Ahok penting mbahnya penting untuk segera diselesaikan secara hukum. Jangan berputar dan berkeliling membeli waktu dengan harapan skandal Ahok dapat meredup, dan akhirnya selesai dengan sendirinya. Sesuatu yang mustahil. Bung Jokowi, saya hanya mengingatkan. (Sumber: Republika, 28 Oktober 2016).

Selasa, 02 Agustus 2016

Adinda Fahira Dyen Matondang, Wakili SMUN-1 Medan Pada Forum Pelajar Indonesia

Adinda Fahira Dyen Matondang siswi kelas XII 
IPA-3 yang menggagas inovasi baru Tas Blacu 
pengganti plastik
Agenda tahunan Forum Pelajar se-Indonesia, akan digelar 9-14 Agustus 2016 di Jakarta. Agenda ini diikuti perwakilan seluruh sekolah setingkat SMU ini, bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan membangun cafacity building para pelajar Indonesia. Forum Pelajar Indonesia ini dilaksanakan setiap tahun dan ini adalah tahun ke delapan.
SMU Negeri -1 Medan sebagai salah satu sekolah favorit di Kota Medan, untuk tahun 2016 diwakili Adinda Fahira Dyen Matondang. Siswi kelas XII Jurusan IPA-3 ini, terpilih setelah melewati seleksi secara ketat.
 “Ada beberapa tahapan seleksi untuk terpilih sebagai peserta pada Forum Pelajar Indonesia ini, yakni membuat isei dengan thema “Karya Anak Bangsa Untuk Negeri”. Buah karya isei tersebut dibuatkan dalam bentuk vidio untuk menjelaskan inovasi baru tersebut, yang berjudul “Mengajarkan Inovasi Baru Pengganti kantong plastik,”katanya kepada wartawan, Selasa (2/8) di Medan.
Dijelaskan Adinda, bahwa gagasan yang ditawarkan adalah inovasi baru pengganti kantong plastik dengan memanfaatkan kain bekas yang didesain menjadi tas blacu. “Saya menawarkan inovasi baru memanfaatkan kain bekas menjadi tas yang diberi nama tas blacu. Tas blacu ini bisa dimanfaatkan sebagai pengganti kantong plastik,”terangnya.
Gagasan ini saya sampaikan juga dalam rangka membantu pemerintah dalam mengurangi penggunaan kantong plastik, sebagai bagian dari menjaga lingkungan hidup. Menurut saya ini sederhana, tapi sangat bermanfaat dan ini sesuai dengan program pemerintah.
Selain gagasan itu, Adinda juga mengumpulkan koin pelajar. Koin pelajar ini adalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan para peserta Forum Pelajar Indonesia. Hasilnya nanti akan dikumpulkan dari seluruh Indonesia, kemudian akan didonasikan untuk peningkatakan dunia pendidikan. “Saya berhasil mengumpulkan koin pelajar sebesar Rp2.884.000,”ucapnya.
Putri dari Ir. H. Andi Jaya Matondang, MMA ini, juga menyampaikan agenda kegiatan pada Forum Pelajar Indonesia. Di antaranya, mid ministery, midle leadershif  dan culture performance, serta focus discution.
Ketika ditanya apa harapan Adinda dengan mengikuti Forum Pelajar Indonesia ini. Secara gamblang Adinda menyampaikan harapannya, yakni bisa menjadi agen perubahan (The Change of Agent). Agen perubahan itu kan, kata Adinda bagaimana kita menjadi individu yang bertugas mempengaruhi target/sasaran perubahan agar mereka mengambil keputusan sesuai dengan arah yang dikehendakinya. Agen perubahan menghubungkan antara sumber perubahan (Inovasi, Kebijakan Publik dll) dengan sistem masyarakat yang menjadi target perubahan.
“Harapan ini jugalah salah satu yang menginspirasi saya untuk menawarkan gagasan tas blacu tersebut,”terangnya.
Lebih lanjut Adinda menyampaikan, saat inikan masih banyak kawan-kawan seusia Adinda yang tidak bersekolah dengan berbagai alasan. Tentu kita sebagai anak bangsa, harus secara bersama-sama bergerak membangun kekuatan untuk membantu mengatasi persoalan tersebut. Apalagi kami sebagai generasi muda, itu harus lebih kreatif, inspiratif dan proaktif. Karena memang, kedepan generasi kamilah yang akan memimpin bangsa ini.
Ketika ditanya dukung dari sekolah, Adinda menyebutkan seluruh jajaran SMUN-1 Medan sangat mendukung. Forum inikan juga membawa nama sekolah, dan saya adalah siswi SMUN-1 Medan. “Ya, pihak sekolah sangat mendukung dan mensuport saya untuk mengikuti kegiatan ini,”ungkapnya, sembari mengatakan orangtuanya sangat mendukungnya.
“Selama kegiatan bersifat positif dan demi peningkatan kualitas, orangtua saya sangat mendukung,”ucap Adinda. (***)

Minggu, 31 Juli 2016

WAMIN AYATIHI...

Setiap kejadian, pasti ada tanda-tanda yang mendahuluinya. Namun seringkali kita tidak mengenali nya, tidak mengetahui, tidak memperhatikan atau mungkin tidak memperdulikan tanda-tanda terse but.
Lalu, kita lajim mengatakan peristiwa itu terjadi tiba-tiba, tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Misalkan tanah longsor, banjir, dan bencana lain yang terjadi disekitar lingkungan kita. Begitulah, justru kita sering menyalahkan alam.
Padahal Allah Swt telah memberikan petunjuk yang jelas dan terang benderang terkait dengan seluruh peristiwa yang terjadi di alam. Firman Allah dalam Al Qur’an, menyebutkan bahwa “Kerusakan yang terjadi di darat dan di laut, dikarenakan ulah tangan-tangan manusia”.
Allah sendiri dalam menunjukkan Kekusaan-Nya, Kebesaran-Nya dan ke-Agungan-Nya dengan memperlihatkan tanda-tandanya. Dalam Al Qur’an, ayat yang menjelaskan tentang Kekuasaan-Nya, Keberasan-Nya dan ke-Agungan-Nya, Allah menggunakan kata ‘Wamin Ayatihi” (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya).
Seperti dalam Surat   Ar Ruum   ayat   20 – 27
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”. (Ar-Ruum: 20)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguh nya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Ruum: 21)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (Ar-Ruum: 22)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”. (Ar-Ruum: 23)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya”. (Ar-Ruum: 24)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur)”. (Ar-Ruum: 25)
“Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya hanya kepada-Nya tunduk”. (Ar-Ruum: 26)

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Ar-Ruum: 27)

Kemudian  Surat   Al Jaatsiyah   ayat   3 – 6
“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman”. (Al Jaatsiyah : 3)  

“Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini”. (Al Jaatsiyah : 4)

“Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air  hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal”. (Al Jaatsiyah : 5)

“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; Maka dengan Perkataan  manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya”. (Al Jaatsiyah : 6)

Kemudian Surat   Al Jaatsiyah   ayat 12 – 13
“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur”. (Al Jaatsiyah : 12)

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. (Al Jaatsiyah : 13)

Pada Surat   Luqman  ayat   10 – 11
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik”. (Luqman : 10 ) 

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata”. (Luqman : 11)

Begitulah Allah Swt menjelaskan sejumlah tanda-tanda kekuasaannya, agar hambanya yang memiliki mata bisa melihatnya, yang punya telinga mendengarnya, yang memiliki akal akan memikirkannya dan seterusnya. Tujuannya adalah agar manusia mengimaninya serta mentaati seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.
Dapat juga dipahami bahwa Allah menjelaskan tanda-tanda Kekuasan-Nya, Kebesaran-Nya dan ke-Agungan-Nya, agar hamba-hambanya menjadikannya sebagai pelajaran serta petunjuk dalam hidup dan kehidupan. Menjelaskan tanda-tanda Kekuasan-Nya, Kebesaran-Nya dan ke-Agungan-Nya dengan ciptaan-Nya, akan memudahkan manusia melihat, mendengar lalu memahami dan menjadikannya sebagai pelajaran, karena memang tanda-tanda tersebut dekat dengan hidup dan kehidupan manusia.  
Sekarang mari kita dekatkan penjelasan di atas peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Kota Kerang Tanjung Balai. Dimana disebutkan terjadi kerusuhan yang menghanguskan beberapa rumah ibadah, rumah tempat tinggal dan beberapa kendaraan.
Peristiwa itu, sempat membuat Kota Tanjung Balai mencekam. Peristiwa itu menjadi berita nasional. Banyak pihak menyampaikan analisis dan kajian terkait peristiwa, Kapolri, Kapolda dan Gubernur juga turun langsung untuk menciptakan suasana kondusif.
Pertanyaan kita sebenarnya adalah apakah tidak ada tanda-tanda sebelum peristiwa itu terjadi. Ibarat hukum alam, aksi memunculkan reaksi, sebab dan musabab. Karena agak sulit diterima akal pikiran sehat, tanpa tendeng aling-aling, ratusan atau bahkan ribuan masyarakat, sekoyong-koyong marah dan melakukan aksi pembakaran terhadap rumah ibadah.
Apalagi seperti diketahui bersama, hidup berdampingan, harmonis, saling menghargai dan menghormati sesama masyarakat di Tanjung Balai sudah lama terjalin dengan baik. Masyarakat Kota Tanjung Balai di kenal sebagai masyarakat yang ramah, masyarakat yang toleran, karena memang di Kota Kerang tersebut hidup dan tumbuh berbagai suku, etnis, agama dan budaya.
Bila ditanya, apakah ada tanda-tanda sebelum kejadian itu meletus, menurut penulis pasti ada. Mungkin saja, kita tidak melihatnya, atau tidak memperdulikan atau menganggap hal sepele. Likulli Syain Sababa (tiap sesuatu ada penyebabnya). Kenapa kita mengakui Allah Maha Kuasa, sebab Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kenapa kita mengimani Allah Maha Pencipta, sebab Allah menunjukkan tanda-tanda ciptaan-Nya, termasuk diri kita sendiri, dan demikian seterusnya.
Oleh karena itulah, kita sebagai manusia yang diberi nikmat penglihatan, pendengaran, akal pikiran, harus digunakan untuk mengenali, melihat dan memikirkan tanda-tanda yang ada, agar kita mampu mengambil tindakan dan keputusan demi kebahagiaan hidup dan kehidupan kita sendiri. Dan yang paling penting, berusaha lebih kepada Allah untuk mendapatkan Ridho, Rahmad dan Ampunan-Nya, amin ya robbal alami, semoga bermanfaat. (***)




Sabtu, 30 Juli 2016

TERNYATA SUDAH TUA

ilustrasi
Lima atau 10 tahun lalu, saya ma sih aktif olahraga futsal dan masih mam pu main full time. Tak tarasa waktu begitu cepat berlalu. Kekuatan fisik kini sudah jauh ber kurang, tidak le bih dari 5 me nit saja mampu berta han, setelah itu keringat bercucuran, badan lelah, penglihatan pun berkunang - ku nang.
Usai bermain futsal bersama adik-adik, mengingatkanku betapa hi dup di dunia ini sangat singkat, sebentar, sekejab. Tanda-tanda penuaan, secara perlahan dan pasti datang, meskipun terkadang kita tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadarinya.
Memang, bila kita mau muhasabah (merenungi/introveksi diri), akan kita temukan perubahan tersebut. Mari kita ingat dan runut secara runtut, sejak kita mulai baligh (15) tahun. Dulu, fisik mulai tumbuh menuju kesempurnaan. Awalnya kita sudah mulai dapat memahami jati diri sendiri, mulai tertarik kepada lawan jenis, mulai menata hidup dan kehidupan.
Selanjutnya, dari sisi pendidikan setelah menyelesaikan tingkat SLTA, SMA dan seterusnya masuk kuliah. Saat menjadi mahasiswa, cara berfikir dan wawasan mulai bergerak maju. Waktunya, mulai menata masa depan, dengan merancang kehidupan ekonomi (pekerjaan), termasuk memikirkan siapa pendamping hidup.
Seiring waktu berjalan, tak terasa kita sudah menjadi raja sehari dan duduk berdampingan di kursi pelaminan bersama kekasih tersayang. Tak terasa, satuhun, dua atau tiga tahun, sudah memilliki tanggungjawab hasil buah cinta dengan pasangan dengan hadirnya putra/i di antara kita. Begitu seterusnya, kelurga kita bertambah dengan berjalannya waktu.
Diawal, mungkin kita masing naik angkot, kini naik sepeda motor atau bahkan sudah punya mobil. Dulu masih ngontak rumah, kini sudah punya gubuk, meskipun hanya punya dua kamar. Bahkan dari sisi beban dan tanggungjawab atas amanah yang kita terima semakin hari semakin banyak.
Bagi yang sudah memasuki usia 40 tahun, secara fisik perubahan yang sangat kentara adalah mulai tumbuhnya rambut putih alias uban. Penglihatan mulai berkurang, gigi pun mulai rontok, meskipun kata banyak orang, pada usai seperti itu, adalah masanya puncak karir dan rezeki (kejayaan).
Berdasarkan rentetan kehidupan tersebut, jelaslah sesungguhnya kita adalah seorang hamba yang maha lemah dan sangat bergantung pada Sang Maha Pencipta Allah Swt. Justru itu pula, tidak ada juga yang patut dibanggakan apalagi disombongkan. Baru sedikit saja nikmat yang dicabut Allah, kita sudah 'kelimpungan'.
Tidak dapat kita banyangkan, andai Allah mencabut lebih banyak nikmat-nya. So...terimakasih undangan futsalnya, selain dapat menyehatkan badan, juga sekaligus mengingatkan batas usia dan nikmat yang diberikan Allah. Yang pasti benarlah sekarang TERNYATA SUDAH TUA, jadi renungkanlah. (MH)

Selasa, 12 Juli 2016

KESUKSESAN IBADAH PUASA RAMADHAN

Secara harfiah sukses adalah keberhasilan, keberuntungan. Orang sukses orang yang berhasil dan orang yang beruntung. Namun, batasan dan pengertian hakiki sukses atau kesuksesan, itu sangat beragam, sangat berhubungan dengan pemahaman orang yang memberi makna sukses atau kesuksesan tersebut.
Ada orang merumuskan arti sukses dengan pengertian sederhana. Ya seperti air mengalir, tanpa berbuat apa-apa, ia merasa sudah sudah mencapai sukses. Ada juga yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang rumit. Akhirnya, ia pun merasa sulit mencapai sukses, menjadi pasrah, dan berdamai dengan diri sendiri bersandarkan takdir.
Sebagian mengatakan sukses itu sebuah pencapai, jika apa yang hendak dicapai sudah diperoleh, ia merasa sudah sukses. Ada yang menyebutkan sukses itu mencapai tujuan atau terget. Misalkan jika ia menargetkan memiliki mobil mewah dan itu sudah tercapai, ia merasa sudah sukses. Atau kalau targetnya jabatan maupun kekuasaan, setelah itu ditangannya, maka ia merasa sudah sukses. Namun ada juga yang menilai, sukses itu adalah sebuah proses, jika proses sudah terlaksana dengan baik, itu artinya sudah sukses. Terlepas hasil dari proses itu, sesuai dengan rencana ataupun tidak. Pun ada yang mengatakan sukses itu sebuah penghargaan, begitu penghargaan diraih, maka itu adalah kesuksesan.
Secara sederhana, sukses itu sangat erat hubungannya dengan profesi, pekerjaan, kekuasaan dan posisi sosial seseorang. Sehingga sulit rasanya menyatukan satu defenisi sukses yang berlaku untuk semua orang.
Untuk lebih mendekatkan pemahaman kita, berikut ini saya akan memberikan penjabaran sukses menurut profesi, pekerjaan, kekuasaan dan posisi sosial melalui beberapa contoh. Pertama, sukses politisi tidak akan sama dengan sukses pebisnis. Kenapa, karena bagi politisi, kesuksesan itu diukur dari capaian jabatan/kewenangan/kekuasaan serta posisi sosial yang didapatkan. Seorang politisi mengaku sudah sukses, jika berhasil meraiih kusri di legislatif (menjadi anggota DPR dan DPRD). Sementara bagi pebisnis, sukses itu manakala usaha yang digelutinya maju pesat dengan keuntungan berlipat.
Sukses seorang guru dan dosen, bilamana siswa berhasil memahami apa yang diajarkannya, sebaliknya sukses bagi seorang jurnalis, ketika tulisan atau reportase yang disajikannya mendapat respon dari pembaca/penonton serta mampu memepengaruhi opini khalayak. Bahkan penjahat sekalipun memaknai kesuksesan disaat berhasil membawa hasil kejahatan yang besar dan tidak tertangkap aparat penegak hukum.
Begitulah, sukses dengan berbagai serbaserbi pemakanaannya, yang kesemuanya adalah kesuksesan dalam perspektif manusia dan duniawi.
Lalu, seperti apa kesuksesan dalam kacamata Sang Maha Pemberi Kesuksesan (Allah Swt) yang bersifat ukhrowi? Mari kita bertanya kepada Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Dia berfirman:
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS. 21:10)

Kemuliaan = Kesuksesan, setuju kan?

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)

Jadi, sukses adalah masuk surga. Setuju?

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ
قَرِيب

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214)

Sukses hanya dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan. Berat ya? Tapi sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Allah akan menolong kita sebagaimana Allah menolong hamba-hamba-Nya yang beriman sebelum kita.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS. 40:51)
Kesuksesan = Mendapat pertolongan dari Allah, setuju kah?

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaknya kepada Allah saja orang-orang mumin bertawakkal. (QS. 3:160)

Bertawakkal kepada Allah = menyerahkan segala urusan kepada Allah = menyelesaikan dengan cara-cara Allah = caranya, pakai cara Allah, ya hasilnya terserah Allah. Kalau mau pakai cara-cara sendiri, ya sudah, selesaikan sendiri.

***
Sekarang mari kita membicarakan kesuksesan Ibada Puasa Ramadhan yang baru saja selesai kita laksanakan. Puasa ramadhan termasuk rukun Islam yang wajib dipatuhi setiap muslim. Secara bahasa, puasa atau shaum dalam bahasa Arab berarti menahan diri dari segala sesuatu. Puasa itu ialah menahan diri dari makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat. Secara istilah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa, mulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.

Dalam ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, Allah Swt berharap pada orang beriman agar mampu meraih kesuksesan melalui ibadah puasa. Harapan itu dilihat dari pilihan kata la’alla ( لعل ), sebagaimana terdapat pada Al Qur’an surah Al-Baqarah ayat : 183, 185 dan 186. Dalam ayat itu Allah berharap pada hambanya yang beriman, La’allakum Tattaqun (bertaqwa), La’allakum Yasykurun (bersyukur)  dan La’allakum Yarsyudun (terbimbing dalam kebenaran).

Allah Taala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al Baqarah: 183).

Firman Allah ta'ala

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 “(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kam mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagunggkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah: 185).

Lalu Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Dalam ayat-ayat tersebut, Allah berfirman ditujukan kepada orang-orang beriman, seraya menyuruh mereka agar berpuasa. Yaitu menahan dari makan, minum dan bersenggama dengan niat ikhlas karena Allah ta'ala. Karena di dalamnya terdapat penyucian dan pembersihan jiwa, menjernihkannya dari pikiran-pikiran buruk dan akhlak yang rendah.
Allah menyebutkan, di samping mewajibkan atas umat ini, hal yang sama juga telah diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum mereka. Dari sanalah mereka mendapat teladan.
Kemudian Allah memberikan alasan diwajibkannya puasa dengan menjelaskan manfaatnya besar dan hikmah yang tinggi. Yaitu agar orang yang berpuasa mempersiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah, dengan meninggalkan nafsu dan kesenangan yang diperbolehkan, hanya semata-mata karena ingin menta'ati perintah Allah. Allah juga memberitahukan, bulan yang di dalamnya diwajibkan berpuasa itu adalah bulan Ramadhan. Bulan Al-Qur’an diturunkan pertama kali. Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai regulasi (undang-undang) serta peraturan dalam kehidupan. Di dalamnya terdapat cahaya dan petunjuk. Dan itulah jalan kebahagiaan bagi orang yang ingin menitinya. Di dalamnya terdapat pembeda antara yang hak dengan yang batil, antara petunjuk dengan kesesatan dan antara yang halal dengan yang haram.
Allah menekankan puasa pada bulan Ramadhan karena bulan itu adalah bulan diturunkannya rahmat kepada setiap hamba. Dan Allah tidak menghendaki kepada segenap hamba-Nya kecuali kemudahan. Karena itu Dia membolehkan orang sakit dan musafir berbuka puasa pada hari-hari bulan Ramadhan.
Maksudnya, bila anda telah menunaikan apa yang diperintahkan Allah, taat kepada-Nya dengan menjalankan yang diwajibkan dan meninggalkan segala yang diharamkan serta menjaga batasan-batasan hukum-Nya, maka hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur karenanya.
Orang yang beriman dan melaksanakan ibadah puasa, tentunya bisa menjadi insan yang bertaqwa, bersyukur dan terbimbing dalam kebenaran. Dan itu hanya dapat dilihat pasca pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadhan.
Lalu, jika ternyata ketiga harapan Allah itu belum diperoleh orang beriman yang melaksanakan puasa, tentu ada yang salah atau tidak benar saat melaksanakan ibadah puasa ramadhan dan orang tersebut, tentunya belum meraih kesuksesan ibadah puasa tersebut.   
***
Dibagian akhir tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melakukan hisab (perhitungan) sederhana sebagai bahan renungan dan muhasabah diri sendiri terhadap ibadah puasa ramadhan yang sudah kita laksanakan. Caranya dengan mempersepsikan ibadah puasa dengan ujian.
Seperti kita sekolah, tentu sebelum dinyatakan naik kelas, harus melalui ujian. Artinya untuk mendapatkan derajat tattaqun, tasykurun dan yarsyudun, Allah menguji kita dengan pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadhan, dimana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul qadar).
Perhitungan ini dihubungkan dengan jumlah umur yang telah kita lalui di dunia ini. Bila tahun ini, misalkan kita berada di usia 70 tahun, jumlah itu kita potong 15 tahun (sebelum usia baligh/segala tindakan hukum menjadi tanggungjawab pribadi), sisanya adalah 55 tahun. Ibadah puasa ramadhan datang setiap satu tahun sekali. Artinya orang yang berusia 70 tahun telah 55 kali bertemu bulan suci ramadhan dan telah 55 kali pula melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Apakah dia sudah menjadi orang bertaqwa, bersyukur dan selalu dalam kebenaran? Kalau belum, maka perlu dipertanyakan dan dievaluasi ibadah puasa yang telah dilaksanakannya.
Demikian juga dengan yang berusia 60 tahun, kurang 15 tahun masa sebelum baligh, maka sudah 45 kali bertemu bulan suci ramadhan. Orang yang berumur 50 tahun, sudah bertemu ramadhan 35 kali setelah dipotong masa sebelum baligh 15 tahun. Orang yang berusia 40 tahun dipotong 15 tahun hasilnya 25 kali bersua bulan ramadhan, orang yang berusia 30 tahun, juga sudah bertemu bulan suci ramadhan dan melaksanakan ibadah puasa sebanyak 15 kali.
So... masa iya, kita sudah melaksanakan ujian sebanyak 15, atau 25, atau 35, atau 45, atau 55 kali, tidak juga meraih kelulusan?. Coba kita renungkan dan bertanya pada diri sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat, amin.


Selasa, 14 Juni 2016

BERJALANLAH DENGAN TUJUAN

KALAU berjalan tanpa tujuan, yang didapatkan hanya lelah, letih dan kesia-siaan serta tidak akan pernah sampai. Oleh karena itu, sebelum melakukan satu perjalanan, tentukan dulu tujuannya, bagaimana cara menempuhnya serta kenali tanda-tanda yang menunjukkan kita sudah sampai pada tujuan.
Selain itu, antara maksud dan keinginan mencapai tujuan, juga harus dipadu padankan dengan busana yang digunakan, karena seringkali terjadi ketidaksinkronan. Kalau ada Uwak-Uwak, membawa kain basahan, sabun dan odol serta handuk, lalu kita tanya, “Mau kemana Uwak?, lalu Uwak itu menjawab mau jalan-jalan ke Carefour!!!
Pasti kita terheran-heran mendengar jawaban Uwak itu. Tapi kalau kemudian Uwak itu, menjawab “Saya mau numpang mandi ke rumah tetangga, karena air di rumah Wak gak ngalir!”,. Jawaban seperti ini tidak akan mengundang reaksi apa-apa.
Sama dengan ibadah puasa bulan ramadhan, tujuan kita sudah jelas menjadi manusia bertaqwa. Jalannya berpuasa selama sebulan, berbalutkan busana qiyamul lail, memperbanyak sedekah dan menunaikan zakat fitrah, insya Allah tujuan taqwa dapat dicapai.
foto ilustrasi
Lalu apakah sekarang ini taqwa itu sudah didapatkan? Jawabnya terpulang kepada masing-masing individu. Namun kita bisa melakukan pengukuran, misalkan bagi orang yang sudah berusia dikisaran 60 tahun, dipotong 15 tahun sebelum masa baligh, berarti sudah empat puluh lima kali berjumpa dengan ramadhan. Kalau taqwa belum juga didapatkan, pasti ada yang salah.
Demikian juga bagi orang yang saat ini berusia 40 tahun, dipotong masa sebelum baligh 15 tahun, sudah 25 kali bersua ramadhan, bila taqwa belum juga diraih, dipastikan ada yang  belum serasi dan tepat dalam menempuh perjalanan menuju taqwa tersebut.
Bagaimana sebenarnya mengenali tanda-tanda kita sudah sampai pada tujuan puasa yakni taqwa. Minimal ada tiga tanda utama orang yang meraih ketaqwaan dengan ibadah puasa bulan ramadhan. Semakin dekat dengan Allah Swt, akhlaknya semakin terjaga, berbicara semakin indah dan bermuara kebajikan.
Seandainya tanda-tanda ini sudah kita temukan, berarti perjalanan kita sudah sampai tujuan. Tapi seandainya belum ditemukan, tentu harus segera dilakukan muhasabah untuk mencari apa yang masih kurang atau mungkin belum tepat dari proses penjalanan yang dilakukan.
Mungkin puasanya belum mantap, qiyamul lailanya masih kurang atau justru sedekahnya terlalu sedikit. Jika sudah ditemukan, segera lakukan perbaikan, karena masih ada waktu ramadhan tahun ini. Jangan tunggu, ramadhan tahun depan, sebab tidak ada jaminan kita akan berjumpa dengan ramadhan 1438 Hijriyah/tahun 2017 M.
Kalau semua proses sudah dilakukan, namun tetap saja tujuan taqwa tak kunjung didapati, mungkin saja ada penyakit dalam hati kita. Di antara penyakit hati yang mampu menghalangi seseorang mencapai taqwa buruk sangka, baik buruk sangka kepada sesama manusia, pun buruk sangka kepada Sang Maha Pencipta.
Dalam lingkungan masyarakat, penyakit hati buruk sangka sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan lajim. Kita tak tahu secara pasti yang menjadi musababnya, apalagi bagi orang-orang yang senang bergosif, menggunjing dan sebagainya, buruk sangka adalah menu favorit dan utama.
Melihat seorang gadis misalnya dengan perut gendut, langsung digosifkan sebagai perempuan tak bener. “Itulah…akibat kalau terlalu genit, keluar malam-malam”, hasilnya perut jadi condong ke depan. Padahal setelah ditelisik, perut gadis itu buncit, bukan hamil tapi sedang menderita kanker ganas.
Pun kalau melihat seorang perempuan dibonceng laki-laki beristri, langsung tuh digosifkan dan digunjingkan. Bahkan ada yang nekat lapor pada istri laki-laki tersebut. “Kak…kak, tadi saya llihat abang membonceng perempuan cantik. Waduh, lihat gayanya, mungkin abang punya hubungan dekat dengan perempuan tersebut,”
Bagaimana jadinya kalau laporan gosif itu mendapat jawaban seperti ini, “ Perempuan yang diboncengnya pake kerudung putih berbaju hijau ya…”Iya kak!”. Oh… itu adik saya. Bersama suamiku hendak mengantar makanan berbuka puasa ke tempat keluarga!!!”,
Selain berburuk sangka kepada manusia, kita juga berani berburuk sangka kepada Allah yang menciptakan kita dan seluruh alam semesta. memperbandingkan antara sifat-sifat Allah dengan fakta kehidupan serta do’a yang dipanjatkan selalu dijadikan rujukan utama untuk menilai keadilan dan kebesaran Allah. sifat Maha Pengasih Allah Swt, tidak jarang digugat hanya atas penilaian manusia Allah ternyata pilih kasih.
Ada sebuah kisah fiksi yang dapat menggambarkan sifat buruk sangka manusia kepada Allah Swt. Satu keluarga di sebuah desa berhajat menyelenggaran pesta pernikahan putri paling bungsu. Karena musim saat itu tidak menentu, kadang hujan dan bisa juga panas terik, lalu sang ibu berinisiatif untuk melakukan langkah antisifasi dengan mendatangi ustadz terkenal di desa tersebut.
Kepada sang Ustadz, si ibu minta petunjuk apa yang harus dilakukan agar pelaksanaan hajatan pernikahan putrinya berjalan lancar. Sebab kata ibu itu, dulu keluarga mereka punya pengalaman pahit, saat menyelenggarakan pesta anak tertuanya, hujan badai menerjang, hingga tenda ambruk, pelaminan hancur, semua basah kunyup.
Setelah menjelaskan bahwa seluruh alam dan isinya berada pada kekuasaan serta ridho Allah, sang Ustadz menyarankan kepada si ibu,agar Allah ridho, laksanakan shalat malam, puasa sunnah Senin dan Kamis, serta perbanyak bersedekah pada anak yatim.
Dengan kenyakinan kuat, si ibu langsung melaksanakan seluruh saran sang ustadz hingga hari “H” pelaksanaan pernikahan putrinya. Pagi itu sungguh menawan, matahari berinar cerah dan indah, hati ibupun ceria penuh rasa syukur. Namun ba’da shalat dzuhur, langit mulai mendung. Salah seorang anggota keluaga mendekati si Ibu dan mengatakan ”Langit tampak mendung, gimana?. Si Ibu menjawab, “Tenang saja dan urus pekerjaan mu, saya sudah shalat malam, pasti aman-aman saja!”.
Dan sore, rintik gerimis sudah terdengar berirama di atas genteng rumah. Anggota keluarga yang tadi kembali mendatangi si Ibu dan menyampaikan, “Gerimis sudah turun”, dan si ibu kembali menjawab dan mengatakan, “Sudah jangan telalu khawatir, selain shalat malam, saya juga sudah puasa sunnah Senin dan Kamis”.
Berselang beberapa saat, hujan benar-benar turun deras. Si Ibu tadi langsung ngomel, “hujan adalah rahmat dari Allah”, tetapi dalam hati menggerutu dan berkatan, “Kenapa Allah harus menurunkan hujan saat pesta pernikahan putrid ku. Allah berarti tidak sayang dan tidak mengijabah do’a saya. Padahal sebelumnya saya sudah berdo’a dan melakukan kebajikan.
Dalam konteks cerita di atas, si Ibu menyangkan Allah tidak sayang dan tidak mengijabah do’anya. Ia merasa perbuatan baiknya tidak memiliki nilai di hadapan Allah dan sangkaan buruk lainnya. Si Ibu menduga hari itu hanya ia yang bermohon kepada Allah. Ia tidak tahu ada banyak hamba Allah yang lain sudah lama berdo’a dan merindukan hujan. Para petani, tukang bunga, pun juga binatang ternak.
Turunnya hujan bagian dari bukti keadilan Sang Maha Adil kepada seluruh makhluknya. Intinya buruk sangka kepada manusia dan Allah adalah penyakit hati yang harus disembuhkan.
Jika penyakit hati mau sembuh,  paling tidak kerjakan tiga perbuatan ini, insya Allah penyakit hatinya akan hilang. Apa itu, pertama Dzikrullah - mengingat Allah/hubungan hati yang bersih selalu ingat dan berdzikir kepada Allah. Dzikir kepada Allah dilaksanakan dengan sinergitas tiga hal. Ucapkan dengan lisan, tasdiq bil qolbi (benarkan dalam hati), arkanu bil af’al (implementasikan dengan perbuatan nyata).
Dzikir ini diyakini, hati dan seluruh anggota tubuh benar-benar terkoneksi dengan Allah. Tapi bila dzikirnya hanya di lisan, misalkan lisan mengucapkan Allahu Akbar, hati teringat tetangga yang baru beli mobil, ya hasilnya pasti nihil.
Kedua, memperbanyak Qiraatul Qur’an (memperbanyak membaca al-Qur’an). Al Qur’an sebagai petunjuk dan sumber dari seluruh sumber petunjuk dalam kehidupan. Nabi Muhammad Saw dalam salah satu wasiatnya, berpesan, zayyinuu manaazilakum bi qiroatil qur’an wash-sholah. Hiasilah rumah mu dengan membaca al Qur’an dan sholat.
Ketiga memperbanyak mengingat kematian (dzikrul maut). Suatu hari sahabat Umar bin Khattab duduk bersama Rasulullah SAW. Kemudian datanglah seorang sahabat Anshar. Seraya memberi salam ia berkata: “Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama?”. Beliau menjawab:”Yang paling baik akhlaknya”.
Sahabat itu bertanya lagi: “Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab: “Muslim yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas”(diriwayatkan oleh Imam al-Qurtubi dalam al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umuri al-Akhirah).

Nabi SAW menyebut orang yang ingat kematian dan mempersiapkannya itu sebagai orang cerdas, sebab orang seperti itu mengetahui hakikat hidup, dan mengindar dari tipuan-tipuan kehidupan.
Ingatlah perjalanan ibadah puasa untuk mencapai tujuan taqwa, dan perjalanan hidup dunia untuk tujuan meraih kehidupan abadi di syurga-Nya Allah Swt. Berjalanlah dengan tujuan. semoga bemanfaat, amin.(***)