Rabu, 07 Desember 2016

LELAKI ITU HILANG BERSAMA FAJAR

Tepat pukul 06.00 pagi, aku terbangun dari tidur yang begitu pulas. Badan terasa segar, setelah sebelumnya begitu letih menjalani rutinitas belajar. Semangat dan kebugaran itu menjadi modal besar menghadapi pelajaran berat hari ini tepat pada hari Jum’at.
Waktu yang terus berlalu, memaksaku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, untuk selanjutnya bersiap-siap berangkat ke sekolah. Saat mengambil handuk, mata tertuju ke celah pintu yang tidak tertutup rapat.
foto by google
Tampak ibu tercinta sedang menyiapkan sarapan pagi. Wanginya yang masuk terbawa angin, menggelitik selera makanku. Terbayang enak dan gurihnya saparan yang disipakan ibu pagi ini. Akupun bergegas mandi dan berpakaian, begitu selesai langsung menghampiri meja makan.
Aku melihat Ibu sedang membersihkan piring dan di atas meja makan telah terhidang sarapan yang sempat menggelorakan rasa laparku. Sebelum menyantap sarapan, ibu berkata “ Rustom (itu namaku), hari ini ibu hanya memasak ubi goreng untuk sarapan. Setelah pulang sekolah, kamu langsung ke ladang memetik daun ubi ya”, kata ibuku.
Aku pun mengangguk tanda mengerti apa yang ibu sampaikan. Sambil menyantap ubi goreng nan gurih, nikmat dan makyos, aku bertanya pada ibu. “Ibu, ayah kemana? Seminggu terakhir ini saya tidak melihat ayah di meja makan ini? Apakah ayah sudah berangkat kerja, karena aku tidak melihatnya sejak bangun tadi pagi. Dimana ayah Bu?
Sederet pertanyaan yang saya ajukan, tidak dijawab ibu. Ia hanya mengatakan, “Sudahlah, habiskan saparanmu dan cepat berangkat sekolah. Ibu tidak mau melihatmu terlambat!
Setelah pamit, saya pun berangkat ke sekolah menggunakan sepeda kayu yang dibuat ayah. Imajinasiku selalu muncul saat mengayuh sepeda dengan kencang. Rasanya aku sedang berada di atas motor sport. Hahaha...maklum di kampung kami, masih sangat jarang orang memiliki motor sport.
Sampai di sekolah, tidak banyak yang aku lakukan. Aku adalah orang yang kurang suka bermain dan melakukan interaksi sosial. Aku lebih senang menepi dari keramaian. Persisnya, aku tidak ingat mulai kapan berperilaku seperti itu. Namun yang pasti, aku merasa nyaman dalam kesendirian, karena merasa punya dunia sendiri.
“Teng..teng...teng” lonceng berbunyi mendenting pertanda dimulainya pelajaran sekolah. Aku pun bergegas masuk ke kelas dan mengikuti seluruh pelajaran pada hari itu.
Setelah seluruh pejaran selesai, lonceng kembali berbunyi pertanda jam sekolah sudah usai. Sesuai perintah ibu tadi pagi, akupun bergegas ke ladang untuk memetik daun ubi.
Sampai di ladang, aku bertemu seorang laki-laki tua berjenggot dan berambut panjang. Ku hampir lelaki tua itu dan berbincang dengannya. “Maaf pak, apa yang bapak lakukan disini”? Apakah bapak dari kampung seberang?.
Mendengar pertanyaan ku itu, lelaki tua itu hanya tersenyum lebar, dan berkata “Kau persis seperti anakku, ketika ia masih sesuai denganmu, dan cara bertanyamu ambisius. Aku disini untuk membantu sispapun yang menginginkan jasaku”jawabnya.
Mendengar jawaban pak tua itu, seketika aku teringat ayah, apa yang ia lakukan sekarang! Keingintahuan itu mendorongku untuk mengetahui kemana ayah sebenarnya. Apalagi bapak tua yang kutemui mengatakan siap membantu siapa saja yang membutuhkan jasanya. Seketika akupun meminta bantuan bapak tua tersebut untuk mencari ayahku.
Setelah selesai memetik daun ubi dan bapak tua yang kutemui melanjutkan perjalanannya, aku pun pulang ke rumah. Sesaat setelah tiba, aku langsung menemui ibuku dan bertanya, “Ibu, kemana sebenarnya ayah, sudah seminggu aku tidak melihatnya,”.
Ibu berkata “ Sudahah nak, ayahmu sedang bekerja”. Pertanyaan kulanjutkan, kenapa malam ayah juga tidak pulang? Lalu ibuku memberikan penjelasan, “ Ayah sebenarnya bukan tidak pulang nak, hanya saja ayah pulang larut malam, sedangka engkau sudah tidur, jelas ibu.
Lantas dengan nada memaksa, aku meminta ketegasan. “Jadi Bu.., sebenarnya kemana ayah. Apakah ia bekerja?. 
Dengan menghela nafas, ibu kemudian berkata, “Nak... sebenarnya ayahmu bekerja di kampung seberang. Ia bekerja pada saudagar kaya yang memiliki toko. Ayahmu bekerja di toko tersebut. Karena tidak memiliki kendaraan, pagi-pagi sekali harus pergi sebelum fajar terbit, tepat pukul 5 pagi, sedangkan engkau belum bangun.  Dan ayah mu pulang sekitar jam 10 malam, sementara engkau sudah tidur. Jadi sudah seminggu ini ayah mu bekerja di toko itu. Itulah sebabnya seminggu ini kau tidak melihatnya. Ubi yang di ladang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, ”kata ibu.
Begitu ibu menyelesaikan jawabannya, hatiku langsung bergetar dan tanpa kusadari bulir air mata meleleh dari ujung mataku. Sedih, haru dan bangga bercampur aduk di dalam hatiku.
Melihat aku menangis, ibu berkata, “Sudahlah nak, jangan menangis. Ayahmu baik-baik saja di sana dan ia ikhlas melakukan semua itu demi kita”. 
“Baiklah bu, jawabku. 
Di dalam hati aku bergumam, “Sungguh berat tanggungjawab seorang ayah". Akupun menyadari kenapa laki-laki itu hilang bersama fajar, itu karena cinta serta kasih sayangnya, demi menghidupi keluarganya. (tulisan  Muhammad Agil Rais, mahasiswa semester 1 Jurusan Akhwalussyakhsiyah, Fak. Syariah dan Hukum, UIN Sumut).

Selasa, 06 Desember 2016

“KECEMBURUAN” AYAH !

Dia adalah sosok laki-laki penuh kesabaran, tanggungjawab, tegas, kuat, pekerja keras dan bijaksana. Dibenci tapi dirindu, terasa tepat untuk menjelaskan posisinya.
Sifatnya yang tegas dan terkesan protektif, membuat dirinya terkesan dibenci. Lalu sifatnya yang selalu siap memberikan perlindungan dan bertanggungjawab, sehingga kehadirannya selalu dirindukan. Di dalam keluarga, ia adalah seorang pemimpin, imam serta panutan. Dia adalah Ayah.
Ayah adalah satu kata yang mengingatkan akan sosok laki-laki kuat, bertanggungjawba, pekerja keras dan bijaksana. Meskipun dalam prakteknya dalam kehidupan, jika seseorang dihadapkan pada pilihan, lebih ingin dekat dengan ibu atau ayah, kebanyakan para anak lebih memilih ibunya.
Pilihan inilah yang kemudian melahirkan rasa cemburu para ayah. Cemburu karena anak-anaknya lebih memilih dekat kepada ibu. Meskipun banyak pendapat mengamini dan menilai adalah sebuah kewajaran jika anak-anak lebih memilih ibu daripada ayah. Kedekatan seorang ibu dengan anaknya. Padahal kasih sayang yang diberikan sama, hanya saja penyampaian berbeda.
Ayah setiap hari membanting  tulang, mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga. Apakah kita tahu yang diinginkan setelah lelah bekerja. Ia ingin sekali kita  ada didekatnya dan menanyakan keadaannya.
Tapi terkadang kita asik dengan gadget. Hal itu menimbulkan rasa cemburu pada ayah. Ayah yang tadinya ingin mendapat perhatian mu, tidak ia dapatkan karena kesibukanmu dengan gadget. Perasaannya kecewa, yang awalnya ingin membuatmu senang dengan memberikan fasilitas akan tetapi tidak digunakan dengan baik.
Sebenarnya ia ingin melarangmu, tapi ia takut menyakiti hatimu. Walaupun ia cemburu dengan perlakuanmu yang terlalu asik dengan gadget. Ia hanya diam saja. Kalaupun rasa cemburu tidak bisa dibendung, ia tidak sengaja membentakmu untuk menyalurkan kecemburuannya, agar kita tahu membagi waktu dengannya, dan tidak hanya asik dengan gadget.
Tapi terkadang hal itu membuat kita marah. Hatinya hancur melihatmu malah balik marah padanya, tapi ia tetap berusaha bijaksana. Ia tidak ingin membujukmu, namun menyuruh ibu membujukmu. Sekali lagi ini dilakukan agar tetap terlihat bijaksana dihadapanmu.
Dan ketika kita meminta izin keluar rumah, ia tidak memperbolehkannya. Tahukah kamu alasan mengapa ayah melarangmu, ia takut bahaya-bahaya yang ada di luar sana. Bathinnya sangat bergejolak, karena ia sangat ingin menuruti keinginanmu tapi tetap menjagamu.
Ketika saat libur, ia sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktunya bersamamu, mendapatkan perhatianmu dan merasakan diistemewakan walaupun sehari saja. Akan tetapi kita asik menghabiskan waktu libur bersama teman-teman. Ayah ingin melarang, tapi ia takut, takut membuatmu sedih dan akhirnya merelakanmu pergi.
Ketika ayah melihatmu mulai dekat dengan seorang pria, lagi-lagi ia merasa cemburu. Ia cemburu karena perhatianmu terbagi dengan orang lain dan sekali lagi ia tidak terlalu berani melarangmu karena ia tahu bahwa kau sudah beranjak dewasa. Ia hanya bisa melihatmu dan menjagamu dari jauh. Semua rasa cemburunya terlihat seperti rasa marah, hanya kita tidak mengerti apa yang dia rasakan.
Ia hanya minta perhatianmu, perhatian yang kau berikan kepada ibu, gadget, tema-teman dan pada pria yang telah mencuri perhatianmu. Ia ingin perhatian itu dicurahkan kepadanya walaupun hanya sehari saja. Tapi akan kita tahu tentang hal itu, bahkan kita kebanyakan acuh dengan keinginan dan kecemburuan tersebut. (Tulisan :Yuliana, mahasiswa Semester I, Jurusan Siyasah- B, Fakultas Syariah, UIN Sumut)



Selasa, 08 November 2016

HATI DAN RASA TERSAKITI, MUNCULKAN AKSI 411

Aksi 4 November 2016 banyak memberi hikmah dan pelajaran, serta menorehkan sejarah Bangsa Indonesia. Sejarah yang menujukkan betapa umat Islam Indonesia adalah umat tetap istiqomah menjaga perdamaian dalam bingkai demokrasi.
Ratusan ribu bahkan jutaan umat Islam Indonesia melakukan aksi demo pada
411 menuntut penegakan hukum dan keadilan atas dugaan penistaan agama 
yang dilakukan Gubernur DKI non aktif Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.
Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan umat Islam Indonesia, bergandeng tangan, di Ibukota Negara dan berbagai wilayah, dengan satu tuntutan menegakkan keadilan atas dugaan penistaan agama dan kitab suci Al Qur’an.
Peristiwa 411 adalah keja dian langka dan mungkin baru pertama kali terjadi. Partai politik, tokoh nasional atau siapapun, akan sangat sulit mengulang momentum tersebut atau tidak mungkin dilakukan seorang manusia Indonesia.
Lalu apa yang menggerakkan massa yang begitu banyak dari berbagai penjuru negeri, mereka datang tanpa diundang, tidak dibiayai dan tidak difasilitasi, serta tidak dimobilisasi. Jawabnnya adalah karena ‘Ada Rasa’.
Rasa sakit hati, karena agamanya dinistakan, kitab sucinya dilecehkan, ulamanya dituding membohongi umatnya. Rasa kecewa karena keadilan tidak ditegakkan sebagaimana mestinya. Rasa kecewa karena hukum tidak berjalan sesuai koridornya. Rasa khawatir bangsa ini akan tercerai berai.
Artinya bagi yang tidak muncul Rasa itu dihatinya, tentu orang tersebut tidak akan mengerti dan mampu memahaminya. Rasa sakit hatilah yang kemudian menggerakkan seluruh niat, langkah dan semangat umat Islam Indonesia untuk bergabung pada aksi demo 411 tersebut.
Perlu diingat, bahwa Al Qur’an adalah Firman Allah SWT, dan sejah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw hingga hari kiamat, Allah yang akan menjaganya dengan cara-Nya Allah sendiri.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Al-Hijr: 9).
Kemudian, sebagaimana diketahui, bahwa hati manusia diliputi oleh bermacam rasa. Ada sayang, benci,rindu, cinta dan perasaan lainnya yang kadang susah buat kita menafsirkannya. Begitu kompleksnya masalah perasaan dalam hati manusia ini, sehingga kadangkala susah membedakan antara airmata bahagia ataukah airmata duka. Manusia sendiri sering bersembunyi dibalik airmuka yang tidak diketahui oleh sesamanya mengenai apa yang tersimpan di lubuk hatinya, walaupun sering dikatakan bahwa airmuka menunjukkan isi hati seseorang.
Memahami isi hati seseorang bukanlah hal mudah dan dapat dipahami langsung hanya dalam waktu singkat. Pengenalan pada diri seseorang itu dilakukan seumur hidup, karena itulah tidak baik ketika bertemu hanya dalam beberapa kali, langsung menilai seseorang dengan karakter tertentu, apalagi sampai men-judge orang tersebut, itu bisa jatuh kepada fitnah. Padahal hanya Allah lah yang mengetahui isi hati manusia.
“Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu”. (QS An Nuur 24 : 64)
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (QS Az Zumar 39 : 22)
“Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. (QS An Nahl 16 : 23).
Jelaslah, kalau Allah yang membukakan hati umat Islam Indonesia untuk berjuang membela Agama Islam dan Al Qur’an, maka tidak satu orang hamba pun yang mampu menghalanginya. Kalau Allah yang menguatkan hati umat Islam Indonesia untuk berjuang, maka seluruh proses perjuangan itu akan difasilitasi Allah.
Sebab itu kita tidak heran, begitu mudahnya orang berangkat untuk ikut aksi 411. Bahkan dengan mudahnya menyerahkan harta bendanya untuk membantu aksi 411, begitu banyaknya do’a yang dilantunkan meminta pertolongan Allah agar umat Islam Indonesia yang menuntut keadilan diselamatkan dan dilindungi.
Rasa inilah yang kemudian menggerakkan ratusan ribu bahkan jutaan umat Islam berkumpul menjadi satu, niat dan tujuan satu yakni menuntut keadilan dan penegakan hukum. Tanpa Rasa itu, untuk mengumpulkan begitu banyak umat dalam satu agenda, bukanlah pekerjaan mudah. Namun kalau Allah yang berkehendak, pasti akan terjadi, karena memang tidak ada yang sulit bagi Allah.
Allah Maha Menggerakkan, sebaik-baik pembuat rencana, pemegang hati dan jiwa hamba-Nya, Maha Melihat dan Mendengar, Allah penguasa langit dan bumi serta seluruh isi yang ada di dalamnya. Wallahu A'lam Bishawab. (***)



Sabtu, 05 November 2016

SAYA BANGGA UMAT ISLAM BERSATU (Hikmah Lain dari Aksi 4-11)

Momentum membangkitkan persatuan umat Islam Indonesia 
"Ini moment luar biasa, saya bangga ternyata umat Islam bisa bersatu. Tidak peduli sholat atau tidak, habib atau bukan, semua menjadi satu mengge makan nama Allah, Allahu Akbar.”
Aksi demontrasi umat Islam agar penista agama yang dilakukan gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berlangsung di depan kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Jumat (4/11/2016). Namun aksi para umat Islam ini justru menjadi tontanan karyawan yang berkantor di ruas jalan itu.
Para karyawan mengabadikan aksi umat Islam ini dengan ponsel pintarmya. Mereka tertarik karena aksi umat Islam ini berlangsung aman dan damai. Apalagi dalam aksinya umat mengumandangkan shalawatan dan tahlil. Selain itu umat Islam juga mengumandangkan takbir. Sehingga membuat kekaguman karyawan.
"Ini moment luar biasa, saya bangga ternyata umat Islam bisa bersatu. Tidak peduli sholat atau tidak, habib atau bukan, semua menjadi satu menggemakan nama Allah," ujar para karyawan tersebut.
Menurut mereka aksi 4 November ini, menunjukan siapapun orangnya, jangan sembarangan mengucapkan kata-kata atau pernyataan yang menyakiti umat agama lain. Dengan momentum 4 Nopember ini menjadikan umat Islam kembali bersatu.
"Ini harus menjadi momentum umat Islam untuk merapat ke masjid berserah diri kepada Allah dan memperdalam Islam. Sehingga bisa bersatu kembali," jelasnya.
Cuplikan cerita di atas, mengisaratkan bahwa sudah lama umat Islam Indonesia tercerai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan sudah terlalu lama umat Islam Indonesia hanya menang jumlah tapi kalah kualitas, sudah lama pula umat Islam Indonesia terkotak hanya karena balutan idiologi politik. Atau yang lebih ekstrim, mungkin sudah lama pula, umat Islam meninggalkan kitab sucinya dalam artinya tidak lagi dijadikan pedoman utama dalam kehidupannya di dunia.  
Cerita di atas juga menjadi gambaran, betapa umat Islam Indonesia sangat merindukan antara umaro (pemimpin) dan ulama bersatu. Umat rindu para elit bangsa yang muslim bergandeng tangan menyatukan kekuatan untuk menciptakan Indonesia Raya yang beriman, bertaqwa, maju dan beradap.
Umat Islam Indonesia juga merindukan para pemimpin dan ulama, duduk bersama membicarakan kemajuan ekonomi, pembangunan, pendidikan dan seluruh sendi-sendi kehidupan bernegara.  
Fakta yang tersaji pada aksi damai 4-11 di Ibukota Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia, memberi kabar gembira bahwa persatuan umat Islam Indonesia sudah ditancapkan. Prediksi kebangkitan peradaban baru dunia  akan lahir dari Islam Indonesia sudah mulai tumbuh. Kita berdo’a semoga persatuan umaro dan ulama serta umat Islam Indonesia, mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
***
‘Keberanian’ Ahok memberikan tafsir terjadap QS : Al Maidah Ayat 51 tentu satu tindakan yang sangat keliru, karena selain bukan beragama Islam, Ahok juga buka seorang ahli tafsir. Namun dari sisi berbeda, ‘keberanian’ Ahok tersebut secara nyata telah membuka mata hati serta meningkatkan kualitas nilai keimanan umat Islam Indonesia.
‘Keberanian’ itu juga telah melecut ghirah jihad umat Islam Indonesia, merekatkan hubungan umat yang seiman dan seagama, menghilangkan titik perbedaan pandangan serta menyadarkan umat Islam Indonesia terhadap posisinya sebagai seorang muslim/muslimat.
Oleh karena itu, jika ada umat Islam Indonesia yang berterimakasih kepada Ahok, itu ada benarnya bila dilihat dari dampak yang ditimbukan dari perbuatan berani Ahok menistakan Al Qur’an, menodai agama Islam serta menusuk hati umat muslim Indonesia.
Argumentasi ucapan terima kasih tersebut dapat diterima melihat manfaatnya. Pertama, ‘keberaniannya’ menistakan Al Qur’an dihadapan masyarakat Pulau Seribu, telah memunculka motivasi bagi umat Islam Indonesia untuk kembali mencintai kitab suci Al Qur’an yang dinyatakan sebagai pedoman hidup. Saat ini, hampir suluruh umat Islam Indonesia mengetahui apa isi dari QS; Al Maidah ayat 51.
Kedua, dengan adanya kasus yang dipicu Ahok, umat Islam Indonesia semakin mamahami arti toleransi yang sesungguhnya. Toleransi bukan bermakna membiarkan setiap orang menghina agama orang lain sesuka hati. Dan diajarkan dalam al Qur’an bahwa, orang beriman dilarang menghina atau merendahkan agama apapun dan siapapun. Melawan setiap tindakan penghinaan terhadap agama bukan berarti intoleransi, tapi justru manipestasi dari hakikat toleransi itu sendiri.
Karena anda sudah mengajarkan arti TOLERANSI yang sesungguhnya, menyadarkan bahwa toleransi bukan maknanya membiarkan setiap orang untuk menghina agama orang lain dengan sesuka hatinya. Al quran kami mengajarkan kami untuk tidak menghina tuhan siapapun, kitab apapun, tapi tindakan anda membodohkan kitab kami, menyadarkan kami siapa sebenarnya yang tidak mengerti arti toleransi?
Ketiga, kasus Al Maidah ayat 1 ini yang Ahok sebut alat untuk menipu umat Islam dalam memilih pemimpin, telah menunjukkan mana golongan Islam sejati dan mana kaum munafik. Hal itu sesuai dengan penjelasan QS; Al Maidah ayat 52 :
Allah berfirman : "Maka kalian akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana, " Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka"
Keempat, secara jujur dengan adanya kasus Ahok ini, telah menjadi inspirasi persatuan umat Islam yang fantastis. Saat demo, kami umat Islam tidak mempersoalkan apakah kami qunut saat shalat subuh atau tidak, tahlilan atau tidak tahlilan, berdoa bersama usai shalat wajib atau tidak berdoa bersama. Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw atau tidak memperingati. Artinya sekat organisasi dan kekelompokan diantara kami hilang diterpa takbir dan tahmid dengan ghirah jidah yang tujuannya membela kemuliaan Al Qur’an dan agama Islam.
***
Begitulah kalau Allah SWT sudah menjalankan rencana-Nya. Tidak satu orangpun dapat membelokkan rencana tersebut, karena memang Allah SWT adalah sebaik-baik pembuat rencana. Jika Allah mengingatkan sesuatu, maka Allah hanya mengucapkan “Kun (jadilah), Fayakun, (maka jadilah).
Tugas umat Islam Indonesia ke depan adalah mempertahankan persatuan dan kesatuan, antara umaro dan ulama serta umat muslim, sehingga Indonesia menjadi “Baldatun Toyyibatun warabbun ghafur” yang dipenuhi dengan rahmad dan ampunan.

 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkash dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami ) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al A’raf : 92)
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan bagi kita semua dan menjadi amal kebajikan, amin (***)



DEMO 4-11 : UMAT ISLAM DAN KEKUATAN POLITIK

Aksi massif berbagai elemen umat Islam secara damai dan terbesar secara jumlah pada 11 November 2016 di Jakarta, dan berbagai kota di Indonesia, merupakan fenomena penting dalam dinamika demokrasi politik di tanah air. Tak mudah mengelola aksi yang dihadiri sekitar 250 ribu lebih massa itu.
Ratusan ribu umat Islam melakukan aksi damai menuntu Ahok diadili
sesuai hukum yang berlaku, karena Ahok Diduga telah menistakan
kita suci Umat Islam (Al Qur'an).
Kita patut bersyukur aksi telah berlangsung damai, kendatipun pada malam hari sebagian massa sem pat terprovokasi tindak ke kerasan, suatu hal yang sangat disayangkan.
Namun, secara umum aksi damai telah berjalan secara baik. Kekhawatiran adanya kekecauan yang lebih besar pun terlewatkan.
Fenomena demikian menun jukkan kesadaran publik berdemokrasi cukup tinggi. Mereka menyampaikan pendapat melalui jalur demonstrasi di luar perlemen, sebagai sesuatu yang lazim dalam demokrasi. Keberhasilan aksi damai 4 November 2016 bagaimanapun telah mampu menutup ragam sinisme yang berkembang di sosial media.
Berbagai media konvensional arus utama, untuk membedakan dengan media baru (new media) atau sosial media, secara umum pun telah memberitakannya dari sudut pandang yang lebih positif. Mereka tidak gegabah mengarahkan pemberitaannya kepada kesimpulan naif, misalnya dengan menyudutkan umat Islam sebagai pengganggu jalannya demokrasi kita.
Kedamaian merupakan salah satu elemen mendasar demokrasi substansial. Itulah yang mengemuka dalam beberapa kali aksi massif yang melibatkan berbagai elemen umat Islam belakangan ini. 
Tentu saja, hal tersebut tak lepas dari peran, para ulama, kiai, dan habaib. Mereka adalah pemandu, sekaligus filter penting dalam penegasan karakter Muslim demokrat di tanah air. Peran mereka tak dapat diabaikan dalam proses demokratisasi yang telah menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi Muslim terbesar di dunia.
Secara umum pula dapat dilihat, dalam proses demokrasi politik hadirnya kelompok-kelompok kepentingan yang mengerucut ke dalam kekuatan penekan, merupakan hal yang lazim. Demokrasi merupakan proses yang dinamis, melibatkan ragam aspirasi dan kelompok yang memperjuangkannya.
Demonstrasi merupakan salah satu ikhtiar untuk menunjukkan eksistensi kelompok-kelompok yang mengajukan aspirasi-aspirasi krusial kepada elite-elite formal penentu kebijakan dan yang terkait. Pesannya sudah dapat ditangkap. Harapannya proses hukum terhadap dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dapat dilakukan secara adil.
Secara khusus, peristiwa 4 November meninggalkan pelajaran penting bagi umat Islam. Kendatipun masih terdapat keterbatasan dalam hal pengorganisasian, ragam kelompok kepentingan yang ada di dalamnya mampu menjadi kekuatan penekan dalam isu krusial tertentu.
Kesadaran eksistensial umat Islam sebagai sebuah kekuatan politik dalam hal ini, tampaknya, baru tahap awal. Demokrasi membuka lebar suatu jalan politik yang inklusif bagi umat Islam, terutama melalui partai-partai politik Islam atau partai terbuka yang akomodatif terhadap aspirasi Islam.
Apabila jalan politik yang inklusif justru terabaikan, ia hanya akan menyuburkan ragam kelompok kepentingan yang hanya akan berhenti kelasnya sebatas kekuatan penekan.

Menjadi kekuatan penekan, sesungguhnya hanya dibutuhkan dalam kondisi yang dianggap sangat mendesak. Padahal, dalam praktik dan dinamika kontestasi demokratik sehari-hari terkait kepentingan umat dan bangsa, diperlukan kekuatan-kekuatan politik formal signifikan yang saling berinteraksi secara elegan dalam mengelola konflik dan membangun konsensus. (ROL/MH)

Kamis, 03 November 2016

SAMPAI KAPAN KAMU MENGEJAR DUNIA...?

Kehidupan dunia penuh dengan pesona, keindahan, kecantikan dan kenikmatan. Tentu siapapun yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya untuk mereguk seluruh kenikmatan ter sebut, dapat dipastikan akan terlena dan hanyut dalam gemuruhnya.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini penuh dengan tipuan, kebohongan dan kepalsuan. Apa yang terlihat indah belum tentu indah dijalani demikian pula apa yang terlihat buruk belum tentu buruk ketika dijalani.
Tidak sedikit orang yang tertipu dalam menjalani kehidupan dunia ini akhirnya hidup dalam penderitaan, kemelut dan stress berkepanjangan yang tidak pernah berakhir. Dalam al-Qur’an Allah telah mengingatkan pada  kita tentang tipuan dan kepalsuan kehidupan dunia ini, agar kita hati hati dan waspada menghadapinya. Di antara ayat tersebut adalah :
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS : Al Hadit : 20)
“Diperhiaskanlah untuk para manusia itu - yakni diberi perasaan bernafsu- untuk mencintai kesyahwatan-kesyahwatan dari para wanita, anak-anak, kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah ladang. Demikian itulah kesenangan kehidupan dunia dan di sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya.” (Ali-Imran: 14)
“Engkau semua dilalaikan oleh perlombaan mencari kekayaan, sehingga engkau semua mengunjungi kubur -yakni sampai mati. Jangan begitu, nanti engkau semua akan mengetahui, kemudian sekali lagi jangan begitu, nanti engkau semua akan mengetahui -mana yang sebenarnya salah dan mana yang tidak. Jangan begitu, andaikata engkau semua dapat mengetahui dengan ilmu yakin, tentu engkau semua tidak berbuat seperti di atas itu.” (At-Takatsur: 1-5)
“Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jikalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)
Berikut ini adalah kisah singkat yang menunjukkan betapa tertipunya manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Al kisah, seorang anak laki-laki berkata kepada bapaknya, “ Pak saya ingin menikahi seorang gadis yang pernah aku lihat, aku suka dengan kecantikannya dan pesona matanya”. Bapaknya dengan suka cita dan bangga, dan berkata; tinggal dimana gadis itu, wahai anakku? Biar nanti bapak yang mengantarmu melamarnya”.
Singkat kisah, pergilah keduanya menemui gadis tersebut. Ketika sang bapak melihat gadis yang disukai anaknya, ia pun tertarik, dan berkata pada anaknya :
“Dengarlah anakku… gadis ini bukan levelmu, kamu tidak cocok dengannya. Gadis ini cocok dengan pria yang punya pengalaman hidup seperti aku”.
mendengar perkataan ayahnya, terkejut si anak dan berkata : “Tidak! Aku yang menikahinya, bukan bapak!”.
Keduanya pun berebut, dan memutuskan pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalah tersebut. sampai di kantor polisi, keduanya lantas menceritakan permasalahannya kepada seorang petugas polisi. Lalu Polisi itu berkata : “ Hadirkan gadis itu kesini, agar aku bisa bertanya kepadanya, siapa yang akan ia inginkan. Anak atau bapaknya”.
Ketika polisi itu melihat gadis itu, ia pun tertarik dengan keramahan dan pesonanya. Polisi itu pun berkata :”Gadis ini tidak cocok untuk kalian berdia, wanita ini hanya cocok bagi orang terkemuka di negeri ini, yaitu aku!”.
Ketiganya pun rebutan. Lalu mereka pergi menghadap menteri. Dan ketika sang menteri melihat gadis itu, ia berkata, “Tidak ada diantara kalian yang cocok untuk menikahi gadis ini, kecuali seorang menteri seperti aku!”.
Keributan terjadi lagi. Akhirnya persoalan ini mereka bawa menghadap presiden. Sang presiden berkata : “Aku akan memutuskan masalah kalian… hadirkan gadis itu ke sini!”. Ketika presiden melihat gadis itu, ia berkata, “Tidak ada di antara kalian yang cocok untuk menikahinya, kecuali seorang presiden seperti aku!” Perdebatan pun tidak terhindarkan di antara mereka.
Disela-sela perdebatan para laki-laki itu, gadis itu berkata : “Aku punya solusi!!! Kita adakan perlombaan. Aku akan berlari, dan kalian semua berlari dibelakangku, siapa yang bisa mengikatku pertama kali, aku menjadi miliknya, dan dialah yang menikahiku”.
Dan benarlah, ketika gadis itu berlari, kelima laki-laki, anak, bapak, polisi, menteri dan presiden, berlari mengejar gadis itu dari belakang. Namun tiba-tiba kelimanya jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam.
Sambil melihat dari atas, kemudian gadis itu berkata :
“Apakah kalian tahu siapa aku?
Aku adalah dunia!!
Aku adalah sesuatu yang dikejar dan diperebutkan oleh semua orang, mereka berlomba untuk mendapatkan aku, hingga lalai terhadap agamanya. Mereka bersenang-senang untuk mengejarkku, sampai akhirnya masuk ke liang kubur, namun mereka tidak memenangkan atas diriku“. (***)

PERINTAH BERWUDHU’ DENGAN AIR?

Air merupakan substansi kimia dengan rumus kimia H2O: Satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen.Airbersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar,yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C).
Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.
Setiap air yang turun dari langit atau keluar dari bumi adalah suci, sebagaimana firman Allah
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
artinya :”Dan kami turunkan dari langit air yang suci” QS Al-Furqon :48
Juga sabda nabi
هو الطهور ماؤه الحل ميتته
artinya : “Dia (laut) suci airnya dan halal bangkainya.“
إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْء
artinya: “Sesungguhnya air itu suci tidak ternajisi oleh sesuatu apapun”
Air tetap dalam keadaannya yang suci sekalipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keaslian (kemutlakan)nya. Artinya air tersebut masih dinamakan air saja, bukan berubah namanya menjadi air susu, air teh, air kopi, dan lain sebagainya. Dasarnya adalah sabda beliau kepada para wanita yang memandikan jenazah putri beliau:
اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ ، وَاجْعَلْنَ فِى الآخِرَةِ كَافُورًا
artinya: “Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya.”
Tidaklah air dihukumi dengan najis meskipun terdapat najis didalamnya kecuali jika air tersebut telah berubah. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah ditanya, Bolehkan kami berwudhu di sumur budha’ah? Yaitu sumur yang disana dibuang darah haidh, daging anjing, dan kotoran. Nabi bersabda :
الماء طهور لا ينجسه شئ
artinya :”Air itu suci, tidak ternajisi oleh sesuatu apapun“
Ath-Thayibi berkata,’ Makna perkataannya, “yang disana dibuang” adalah sumur itu dulu dari aliran beberapa lembah yang kemungkinan didatangi penghuni padang pasir dan membawa kotoran yang ada disekitar rumah mereka tadi. Banjir lantas membawa kotoran yang ada disekitar rumah mereka tadi, dan membawanya ke dalam sumur. (Sumber : Al-Wajiz fi fiqhissunnah walkitabil ‘aziz)